Selasa, 9 Agustus 2022 | 11:33 WIB

Likuid Meluncurkan Crowdfunding Industri Kreatif dan Gaya Hidup

BACA JUGA

ads-custom-1

Fintechnesia.com | Perusahaan finansial teknologi PT Likuid Dana Bersama pekan lalu meluncurkan online platform pendanaan dan investasi crowdfunding (urun dana) ke publik. Mengusung tema “Access Granted” yang bermakna “akses terbuka”, Likuid ingin memperkuat pertumbuhan industri kreatif dan gaya hidup (lifestyle) di Indonesia dengan membuka akses permodalan bagi pelaku usaha, serta akses investasi yang  terjangkau bagi masyarakat.     

Fokus Likuid terhadap industri kreatif dan gaya hidup berangkat dari situasi di mana masih banyaknya pelaku usaha di bidang ini yang kurang bisa memaksimalkan karya mereka karena terhimpit modal kerja yang terbatas. Padahal, untuk bisa terus bersaing dan mengikuti tren, pelaku industri ini juga perlu disokong dana yang tidak sedikit.

Kondisi ini juga ditunjukkan dengan data dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tahun 2017, sekitar 92,37% pelaku industri kreatif di Indonesia masih mengandalkan modal pribadi dan belum menerima akses permodalan dari pihak lain selain bank. Sementara akses permodalan alternatif lainnya masih didominasi oleh investor high net-worth saja.

CEO dan Founder Likuid, Kenneth Tali mengungkalkan, produk industri kreatif dan gaya hidup sangat dekat dengan masyarakat, seperti hiburan, kuliner, fashion, kecantikan, dan kesehatan. Inovasi produk dan pelaku usaha industri ini juga terus meningkat. “Kami percaya, untuk memperkuat industri ini diperlukan partisipasi masyarakat luas, tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai investor. Di sinilah Likuid berperan membuka akses permodalan bagi pelaku usaha dan akses investasi bagi masyarakat umum. Harapan kami, bisnis-bisnis industri kreatif menjadi lebih ramah dijangkau untuk semua kalangan, termasuk investor pemula” ungkap Kenneth.  

Namun Likuid memahami, meskipun keberadaan industri ini dekat dengan masyarakat, tingkat kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi pada sektor ini masih rendah. Selama ini, persaingan industri kreatif dikenal cukup dinamis sehingga dianggap berisiko tinggi. Di sinilah Likuid berperan mengkurasi serta menganalisa potensi dan risiko proyek bisnis secara menyeluruh guna menjawab keraguan masyarakat selaku calon investor.

Untuk menghadirkan skema pendanaan bisnis dan investasi yang ideal bagi kedua belah pihak, Likuid menciptakan skema project financing yang berbasis revenue sharing atau pembagian pendapatan dan profit sharing atau pembagian keuntungan, potensi imbal hasil untuk investor sebesar 12% hingga 20%. Skema ini memungkinkan investor dapat berinvestasi secara kolektif (atau disebut dengan urun dana) dengan minimal pendanaan Rp 100.000. Ketentuan minimal dana investasi yang relatif rendah ini sekaligus menunjukkan upaya Likuid agar kesempatan investasi ini berlaku bagi semua kalangan masyarakat.

Usai peresmian ini, Likuid menargetkan menjaring 2.500 pengguna dalam kurun waktu empat bulan usai resmi meraih status terdaftar dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini Likuid beroperasi dengan status tercatat di regulatory sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Juli 2019.

Demi memberikan dampak produktivitas yang visible bagi industri ini, Likuid menargetkan dapat menyalurkan pendanaan sebesar 40 miliar di tahun 2020. Ada enam sektor bisnis yang menjadi sasaran Likuid, yaitu kuliner, hiburan (film, serial, dan konser), e-sports, kecantikan, kesehatan, dan startup. Di tahap awal ini, Likuid telah mempersiapkan empat proyek pendanaan perdana yang segera diluncurkan ke publik. (eko)

ads-custom-1
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER