Rabu, 7 Desember 2022

IFC Salurkan Pinjaman ke Bank OCBC NISP hingga Rp 2,75 triliun

BACA JUGA

- Advertisement -

FinTechnesia.com | Pekan lalu IFC, anggota World Bank Group, mengumumkan pemberian pinjaman sampai Rp 2,75 triliun (setara $200 juta) Ini merupakan private arrangement antara Bank OCBC NISP dan IFC. Pinjaman ini  bagian Program Pembiayaan Berkelanjutan (Sustainability Bond Program) Bank OCBC NISP yang terdiri dari green bond dan gender bond.

Dana gender bond  memungkinkan bank meningkatkan penyaluran kredit kepada pengusaha wanita dan usaha kecil dan menengah (UKM) milik wanita. Green bond akan mendukung Bank OCBC NISP meningkatkan penyaluran pembiayaan berwawasan lingkungan. Terutama untuk pengembangan proyek-proyek hijau dan pembiayaan properti hijau.

Kerjasama gender bond ini pertama di Indonesia. Dan kedua di Asia Pasifik, setelah penerbitan obligasi gender Bank Ayudhya tahun 2019 di Thailand, yang juga didukung oleh IFC. Green bond Bank OCBC NISP merupakan kelanjutan kesuksesan green bond pertama di tahun 2018 yang telah disalurkan seluruhnya. Green bond pertama tersebut juga sepenuhnya didukung oleh IFC.

UKM milik wanita memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional. Dengan kepemilikan wanita yang mencapai 34% pada usaha menengah dan 50% untuk usaha kecil. Namun, menurut kajian IFC mengenai kesenjangan pembiayaan UMKM (IFC’s MSME Financing Gap Study, 2017), kekurangan pembiayaan UKM milik wanita di Indonesia mencapai US$ 60 miliar. Sekitar 40% UKM milik wanita di Indonesia mengalami keterbatasan pembiayaan dan 17% perusahaan milik wanita memandang pembiayaan sebagai hambatan utama pertumbuhan.

Meningkatkan partisipasi wanita dalam perekonomian Indonesia dan mengurangi kesenjangan gender merupakan strategi IFC di Indonesia. Pinjaman IFC dalam mendukung Program Pembiayaan Berkelanjutan Bank OCBC NISP, mempunyai tujuan untuk memberdayakan pengusaha wanita dan UKM milik wanita serta untuk mendorong proyek-proyek berwawasan lingkungan. “Hal ini menunjukkan komitmen IFC untuk medorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan,” ujar Azam Khan, Country Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia dan Timor Leste.

Pembiayaan hijau sangat penting bagi Indonesia dalam mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca. Yaitu 29% pada tahun 2030. Dalam hal ini, IFC memperkirakan, potensi pembiayaan berwawasan lingkungan di Indonesia dapat mencapai $274 miliar dari tahun 2016 hingga 2030. “Pendanaan lanjutan dari IFC akan digunakan untuk meneruskan upaya kami dalam menyediakan pembiayaan berwawasan lingkungan,” ujar Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP. (eko)

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER