Banyak Pihak Mengincar Data Pribadi dan Bocor, Ini Tips dari Kaspersky


FinTechnesia.com | Data pribadi menjadi incaran banyak pihak. Terbaru menimpa pengguna Facebook.

Menyoroti bagaimana dampak pelanggaran data telah melampaui batas waktu. Dan memberikan pelajaran berharga apa yang hilang akan hilang selamanya.

Dengan memperoleh akses ke nomor telepon, ID pengguna, nama lengkap, dan bahkan alamat email, para pelaku kejahatan siber memperoleh ruang terbaik. Mereka dapat meluncurkan beberapa serangan dunia maya, bentuk penipuan phishing, serangan rekayasa sosial, hingga membobol sistem TI organisasi untuk menyebarkan ransomware .

Dari sudut pandang bisnis, “komunikasi” menjadi kunci penting. Mengapa penting, karena dengan pemilihan juru bicara yang tepat dapat memandu para pelanggan memperoleh informasi yang cepat dan akurat, dan membantu organisasi mendapatkan kepercayaan dan menyampaikan kembali niat baik mereka kepada publik secepat mungkin.

“Penting juga mempertahankan keberlangsungan rencana bisnis Anda dengan memastikan setiap kerentanan telah ditambal dan melakukan pembaruan perangkat lunak untuk mencegah pelanggaran data lebih lanjut,” ungkap Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, pekan lalu

Keamanan siber membutuhkan kerjasama seluruh pilar. Setiap upaya dalam meminimalisir pelanggaran data akan membutuhkan upaya proaktif dari konsumen yang terkena dampak. Selain mengubah kata sandi dan menjalankan solusi antivirus yang efektif, Anda juga perlu mengetahui tindakan saat setelah identitas tercuri.

Ini akan membantu mencegah para pelaku kejahatan siber mengeksploitasi data lebih lanjut. Saat setelah menemukan akses tidak sah ke akun pribadi, segera hubungi penyedia layanan (service provider) dan berikan penjelasan lengkap kepada mereka. Sehingga Anda tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi.

“Dalam hal ini, ketika data pribadi lama Anda muncul kembali secara online, Anda bisa menghindari konsekuensi jangka panjang dari pencurian identitas dengan cara memantau aktivitas keuangan Anda, mengingat ini masih menjadi target utama bagi banyak pelaku kejahatan siber,” tutup Tiong. (mrz)