Perbankan Terus Mengembangkan Open Banking

Bank Mandiri
Ilustrasi Bank Mandiri

FinTechnesia.com | Sejumlah bank nasional menerapkan open banking. Ini mengacu pada visi sistem pembayaran Indonesia tahun 2025 yang digagas Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuanga (OJK),

Caranya melalui application programming interface (API). Program ini memungkinkan bank, financial technology (fintech) atau start-upmembuka data dan informasi keuangan yang terkait dengan transaksi pembayaran dari nasabahnya secara resiprokal (prinsip kesetaraan).

Ada tiga pihak yang terlibat dalam implementasi API, yakni nasabah sebagai pemilik data, bank, dan fintech dengan model kolaboratif. Model ini mendorong keterbukaan informasi keuangan bank dan fintech kepada pihak ketiga secara aman. 

Masyarakat dimudahkan dalam melakukan transaksi dan memungkinkan terjadinya aktivitas interlink dua pihak atau lebih yang tidak terafiliasi. Yakni untuk meningkatkan kapabilitas masing-masing pihak.

Regulator, baik BI maupun OJK, juga sudah merumuskan regulasi open banking API. Antara lain mempersiapkan digital ID, pembangunan data hub, pengaturan data protection. Termasuk consumer consent dan cloud policy. Industri perbankan nasional, fintech, dan nasabah harus turut mendukung program ini karena memberikan peluang bagi ketiga pihak yang terkait untuk mendapatkan manfaat optimal dalam melakukan transaksi pembayaran.

Institusi perbankan adalah satu pihak yang sejak awal begitu antusias menyambut penerapan open banking API ini. Salah satunya Bank Mandiri. Bank BUMN terbesar di Indonesia ini sejak awal memahami pentingnya inisiatif ini. Bahkan, Bank Mandiri sejatinya telah lama menggunakan model kolaboratif dengan mitra e-commerce, untuk integrasi layanan produk mandiri E-Money, jauh sebelum program open banking API ini diperkenalkan.

Konsekuensinya harus membangun koneksi langsung antara Bank Mandiri dengan mitra. “Konsekuensi lain biaya yang tinggi untuk membangun koneksi tersebut serta waktu dan kebutuhan resource yang intens. Dengan adanya API semua bisa keterbatasan ini bisa dilampaui,” ungkap Sunarto Xie, Senior Vice President Digital Banking Bank Mandiri.

Open banking API menjadi bagian dari roadmap transformasi digital Bank Mandiri. San menjadi katalis pertumbuhan dan pengembangan ekosistem digital saat ini. Bank Mandiri juga sudah merasakan besarnya impact dari open banking API, baik untuk nasabah, bank, dan mitra fintech atau e-commerce, untuk bekerja sama dalam satu platform. 

Tak hanya itu. Mandiri API juga menawarkan kemudahan integrasi berbagai layanan transaksi perbankan lain pada digital platform mitra. Seperti transfer antar rekening, transfer antarbank, bill payment, auto debit, dan lain-lain. Berkat API, jaringantop up dan update saldo mandiri E-Money menjadi sangat luas karena dapat dilakukan secara mobile melalui aplikasi yang sudah bermitra dengan Bank Mandiri.

Secara volume dan nominal, jumlah transaksi melalui Mandiri API juga terus meningkat. Transaksi top up e-money, misalnya, sudah mencapai 2,5 juta transaksi per bulan, disbursement melalui seller-financing mencapai Rp 45 miliar per bulan. 

Sedangkan transaksi melalui direct debit sudah mencapai 40.000 transaksi per bulan. Hal ini menunjukkan manfaat Mandiri API yang telah dirasakan langsung oleh para mitra dan nasabah.

Sejak pertama dibuka ke publik pada awal September 2020, Mandiri API langsung kebanjiran mitra. Pada bulan pertama saja, mitra yang sudah mendaftar di potral API Mandiri mencapai 300 mitra. Mereka ingin bergabung di komunitas Mandiri API mengikuti jejak fintech dan start-up raksasa yang selama ini jaringan e-commerce sudah menggurita. Seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, LinkAja, KoinWork, dan Amartha. (yof)