Perlu Peningkatan Literasi Digital Dalam Online Learning

FinTechnesia.com | Pandemi Covid-19 membawa perubahan yang signifikan pada dunia pendidikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Agar menggenjot efektivitas online learning, upaya meningkatkan literasi digital mendesak dilakukan.

Lebih jauh lagi, penguasaan literasi digital yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan kualitas siswa secara individu dan kualitas pendidikan nasional. Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyingkap urgensi meningkatkan literasi digital. Mengigat penggunaan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu hal yang transformasinya terakselerasi karena pandemi Covid-19.

Pengguna internet harus dilengkapi dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan manfaat dari kegiatan yang mereka lakukan pada platform digital. Upaya ini perlu dilakukan sejak dini, terlebih kini anak-anak juga sudah mulai menggunakan internet.

Selanjutnya, anak-anak memang cukup cepat beradaptasi dengan teknologi. Namun mereka belum mampu dapat bersikap dewasa dalam mengonsumsi dan menggunakan konten yang ada pada platform digital.

Banyak platform digital tidak dirancang untuk anak-anak dan minimnya batasan yang bisa mencegah mereka mengonsumsi konten yang tidak sesuai dengan usianya. “Tanpa literasi digital yang memadai, anak-anak menjadi rentan pada konsumsi konten yang berbahaya, misinformasi dan tindak kejahatan siber lainnya,” ungkap Peneliti CIPS, Nadia Fairuza, Minggui (2/5)

Upaya peningkatan literasi digital perlu terintegrasi dengan kurikulum karena kemampuan literasi digital sangat dipengaruhi kemampuan literasi baca tulis. Yakni kemampuan membaca, menulis, mencari, menganalisis, mengolah dan membagikan teks tertulis. Dalam praktiknya, pendidikan Indonesia berfokus pada pendekatan pembelajaran yang kurang mengasah keterampilan berpikir kritis seperti menghafal dan mengerjakan soal-soal yang jawabannya dapat dengan mudah ditemukan di buku pelajaran tanpa melewati proses berpikir yang dalam.

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang ada di sekolah-sekolah juga belum optimal dalam meningkatkan literasi digital. Faktanya, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 37 Tahun 2016 tentang implementasi pembelajaran TIK lebih berfokus pada kemampuan peserta didik dalam mengoperasikan perangkat teknologi dan internet daripada kemampuan menganalisis dan memproses informasi yang didapat secara daring.

Nadia menjelaskan, metode belajar online learning atau yang juga disebut sebagai pembelajaran jarak jauh masih merupakan pilihan ideal untuk diterapkan di masa pandemi. Sejalan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nadia memandang kegiatan belajar tatap muka idealnya sampai menunggu turunnya angka penularan Covid-19. Ddan memperhatikan luasnya jangkauan vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta. Namun tidak hanya memprioritaskan vaksinasi, pemerintah perlu memperhatikan bagaimana sekolah dapat mengimplementasikan protokol kesehatan yang baik dan benar.

Penutupan sekolah yang sudah berjalan lebih dari satu tahun membawa berbagai dampak bagi peserta didik, seperti hilangnya kemampuan peserta didik dalam belajar (learning loss), peningkatan angka putus sekolah (school dropouts), serta penurunan kesehatan mental mereka dan juga guru.

“Walaupun demikian, diharapkan bahwa guru dan siswa sudah semakin terbiasa dan dapat menyiasati keterbatasan yang ada tersebut. Salah satunya lewat upaya-upaya untuk meningkatkan literasi digital,” jelasnya. (sya)