Sanksi Pemerintah China Bikin Kinerja Alibaba Babak Belur, Rugi Sampai Rp 16,6 Triliun

FinTechnesia.com | Sanksi Pemerintah China menyebabkan kinerja Alibaba Group Holding Limited babak belur. Dalam pengumuman laporan keuangan kuartal dan tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2021 hari ini Senin (17/5), kerugian dari operasional sebesar CNY 7,63 miliar atau USD 1,17 miliar. Jumlah ini setara Rp 16,61 triliun, dengan asumsi kurs Rp 14.200 per dollar AS.

Kerugian ini akibat denda sebesar CNY 18,228 miliar atau US$ 2,78 miliar alias hampir Rp 40 triliun. Pemerintah China menghukum Alibaba dengan Undang-Undang Anti-monopoli.

Ketika denda ini dikesampingkan, pendapatan dari operasional seharusnya senilai CNY 10,56 miliar atau US$ 1,61 miliar. Meningkat sebesar 48% yoy. EBITA yang disesuaikan, pengukuran non-GAAP, meningkat 14% yoy menjadi CNY 22,61 miliar atua USD 3,45 miliar.

Operasional Alibaba sendiri amat bagus. “Alibaba mencatatkan rekor baru dengan mencapai 1 miliar jumlah konsumen aktif global pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2021,” jelas Daniel Zhang, Chairman and Chief Executive Officer Alibaba Group, Senin (17/5).

Secara umum, bisnis telah mengalami pertumbuhan yang kuat dengan fondasi yang solid. Ekosistem Alibaba menghasilkan gross merchandise value (GMV) senilai US$ 1,2 triliun pada tahun fiskal ini.

Pertumbuhan pendapatan organik sebesar 32% di tahun fiskal 2021. Tanpa menghitung konsolidasi Sun Art yang baru saja diakuisisi. Pencapaian ini didorong oleh kinerja kuat dari bisnis perdagangan utamaserta pertumbuhan berkelanjutan dari Alibaba Cloud. “Kami mencatatkan pertumbuhan 25% yoy pada EBITDA yang disesuaikan dan kami turut memperbanyak investasi pada area bisnis baru dan pertumbuhan strategis,” ujar Maggie Wu, Chief Financial Officer, Alibaba Group.

Alibaba menargetkan menghasilkan pendapatan sebesar CNY 930 miliar pada tahun fiskal 2022.
“Kami berencana menggunakan seluruh profit tambahan dan modal tambahan pada tahun fiskal 2022 untuk mendukung para merchant kami. Serta berinvestasi pada bisnis baru dan area strategis utama kami, yang dapat membantu meningkatkan consumer wallet share dan menembus pasar baru,” lanjutnya. (mrz)