Penggunaan E-Wallet Semakin Meningkat

FinTechnesia.com | Jumlah pengguna dompet digital (e-wallet) pada masa pandemi Covid-19 semakin meningkat di 2021. Berdasarkan data Juni 2021, total pengguna dompet digital Dana mencapai 70 juta.

Angka ini bersaing dengan jumlah pengguna LinkAja, yang mencapai 71 juta. Sementara, ShoppePay sudah mencapai 10 juta pengguna aktif berdasarkan data terakhir pada 2020.

Dompet digital Dana melaporkan, pada semester I-2021 rata-rata total transaksi meningkat menjadi 5 juta tper hari. Pada 2020, total transaksi harian hanya mencapai 3 juta secara rerata per hari.

Pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), LinkAja mengalami peningkatan 1 juta pengguna. Dengan volume transaksi melesat dua kali lipat dibandingkan 2020.

Ovo dan Dana menjalin kerjasama mengembangkan fitur digitalisasi usaha mikro, kecil dan Menengah (UMKM). Kerjasama ini untuk meningkatkan akses UMKM terhadap layanan kredit usaha, Saat sebagian besar pemilik UMKM mengalami kesulitan dalam mengakses.

Sampai pertengahan 2021, Dana berhasil mendapatkan 250.000 UMKM bergabung dalam layanan Dana Bisnis. Hal ini juga berkontribusi terhadap peningkatan transaksi sebesar 35% pada layanan tersebut.

ShopeePay sejak awal tahun juga aktif melakukan kerjasama dengan Google Play, Indomaret, dan merchant ritel lain untuk menjaring pengguna baru. Total nilai transaksi ShopeePay di minimarket meningkat sebesar 143% pada Juni 2021. Sementara volume transaksi meningkat 60%.

Survey Mandiri Institute pada April 2021 menyebut, mayoritas pemilik usaha UMKM mengandalkan perbankan sebagai sumber pembiayaan eksternal. Sebanyak 58% UMKM menyatakan, memiliki pinjaman pada sektor perbankan.

Sementara UMKM yang memiliki pinjaman pada platform financial technology (fintech) hanya sebesar 6% dari 505 responden. “Hal ini dapat disebabkan minimnya informasi dan pengetahuan pemilik usaha UMKM terhadap layanan pinjaman fintech. Oleh karenanya, UMKM perlu diberikan sosialisasi serta informasi yang tepat terkait layanan pinjaman fintech,” tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri, Jumat (30/7). (yof)