Separuh Pertama 2021, Industri Jasa Keuangan Stabil, Ini Indikatornya

FinTechnesia.com | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga semester I 2021 sektor jasa keuangan tetap stabil. Tercermin Dari membaiknya sejumlah indikator.

Seperti intermediasi perbankan dan penghimpunan dana di pasar modal. Serta terjaganya rasio kehati-hatian (prudensial) di lembaga jasa keuangan.

Penghimpunan dana di pasar modal hingga 27 Juli 2021 mencapai Rp 116,6 triliun. Melesat 211% dibanding periode  sama tahun lalu.

Lalu 27 emiten baru yang melakukan IPO. Selain itu, masih terdapat penawaran umum yang dalam proses dari 86 emiten dengan nilai nominal sebesar Rp 54,2trliun.

Kredit perbankan pada Juni 2021 meningkat Rp 67,39 triliun. Tumbuh sebesar 0,59% yoy. “Ini meneruskan tren perbaikan selama empat bulan terakhir seiring berjalannya stimulus pemerintah, OJK dan otoritas terkait lain,” terang Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo, Kamis (29/7).

Sementara dana pihak ketiga (DPK) kembali Tumbuh double digit sebesar 11,28% yoy. Dari sisi suku bunga, transmisi kebijakan penurunan suku bunga telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit ke level yang cukup kompetitif.

Sektor asuransi mencatatkan penghimpunan premi pada Juni 2021 sebesar Rp 31 triliun. Rinciannya, asuransi jiwa Rp 21,1 triliun, asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp 9,9 triliun. 

Selanjutnya, financial technology (fintech) P2P lending pada periode yang sama mencatatkan pertumbuhan baki debet pembiayaan menjadi Rp 23,38 triliun (Juni 2020 dan Mei 2021 masing-masing tercatat sebesar Rp11,8 triliun dan Rp21,7 triliun). 

Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan masih terkontraksi. Menurun 11,1% yoy di Juni 2021.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada Juni 2021 masih relatif terjaga dengan rasio NPL gross tercatat 3,24% (NPL net: 1,06%).

Iya asio NPF perusahaan pembiayaan Juni 2021 turun. Yakni 3,96% (Mei 2021: 4,05%). 

Likuiditas industri perbankan dari asio alat likuid/non-core deposit dan alatlikuid/DPK per Juni 2021 terpantau di atas threshold.

Permodalan lembaga jasa keuangan juga masih pada level yang memadai. Capital adequacy ratio industri perbankan tercatat 24,33%. 

Risk based capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing 647,7% dan 314,8%. Jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitupun gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 2,03 kali. Jauh di bawah batas maksimum 10 kali. (nau)