OJK Menargetkan, Tahun Ini 70% Pelajar Memiliki Rekening Tabungan

FinTechnesia.com | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Kementerian Agama (Kemenag) dan industri perbankan terus mendorong program peningkatan literasi dan inklusi keuangan bagi kelompok pelajar. Yakni melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar).

Pada Agustus 2021 ini, program Kejar dikemas dalam satu rangkaian kegiatan Kejar Prestasi Anak Indonesia atau disingkat KREASI. Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara mengatakan, penyediaan akses keuangan untuk masyarakat termasuk untuk pelajar merupakan tanggung jawab semua pihak. Inklusi keuangan merupakan bagian penting upaya pemulihan ekonomi dan pemerataan pendapatan.

Tema perluasan akses keuangan untuk pelajar, yang dibarengi dengan upaya literasi keuangan dan perlindungan konsumen, sangatlah strategis. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai tingkat inklusi keuangan sebesar 90% pada tahun 2024,” kata Tirta, Selasa (24/8).

Menurut Tirta, gerakan menabung untuk pelajar merupakan hal sangat krusial. Mengingat jumlahnya sekitar 65 juta pelajar. Jumlah ini 25% dari total penduduk dan termasuk kategori critical economic players (pelaku ekonomi yang sangat strategis) yang perlu dibekali pemahaman keuangan memadai.

Selain itu, survei OJK 2019 menunjukkan, para pelajar umumnya memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan relatif rendah. Tingkat literasi keuangan penduduk berusia 15-17 tahun hanya 16%, Jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional sebesar 38%.

Senada dengan tingkat literasi, tingkat inklusi keuangan penduduk berusia 15-17 tahun tersebut juga relatif rendah, yaitu 58%. Jauh di bawah tingkat inklusi keuangan nasional sebesar 76%.

Pada tahun 2021, OJK menargetkan 70% pelajar di Indonesia memiliki rekening tabungan. Sampai triwulan II tahun 2021, tercatat 40,8 juta atau 63,14% pelajar di Indonesia telah memiliki rekening tabungan. Dengan total nominal sebesar Rp 26,3 triliun. (eko)