Tanpa Kerjasama Eksklusif dengan Gojek, Bank Jago Sampaikan Kinerja dan Rencana

FinTechnesia.com| Bank Jago mengadakan paparan publik pada pekan lalu. Inisiasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) ini bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada publik, termasuk para pemegang saham. 

Manajemen menyampaikan kinerja Bank Jago periode Semester I – 2021. Dan rencana strategis pada semester II – 2021. 

Mengutip situs resmi Bank Jago, bank berkode saham ARTO ini meningkatkan penyaluran kredit dan memperluas kolaborasi dengan digital ekosistem.

Kolaborasi melalui kerjasama dengan sejumlah perusahaan peer to peer (P2P) lending, multifinance, digital ekosistem dan integrasi aplikasi dengan platform investasi Bibit serta super app Gojek. 

Direktur Utama Bank Jago, Kharim Siregar menjelaskan, pencapaian selama semester I 2021 ini menunjukkan perusahaan telah berada di jalur yang tepat dalam mewujudkan aspirasi besar Jago sebagai bank berbasis teknologi yang tertanam dalam ekosistem. 

“Kolaborasi mendalam dengan ekosistem menjadi kesempatan bagi Jago memperluas penetrasi pasar. Sekaligus memberikan pengalaman baru bagi nasabah dalam mengakses layanan bank,” ujar Kharim.

Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI Senin (13/9) menyebutkan, kerja sama dengan Gojek tidak bersifat eksklusif. Artinya, Bank Jago harus bersaing dengan institusi keuangan lain. 

Bank Jago menyebut sudah integrasi aplikasi Jago dan Gojek. Sementara itu, kolaborasi dengan fintech lendingdirealisasikan dalam bentuk kerjasama pembiayaan (partnership lending). Saat ini Bank Jago telah menjalin kemitraan dengan Akseleran, BFI Finance, Logisly, Adakami dan beberapa mitra lainnya. 

Hingga akhir Juni 2021, Bank Jago telah menyalurkan kredit Rp 2,17 triliun. Meroket 695% dari posisi yang sama tahun lalu alias year on year (yoy). Jika dihitung secara kuartalan, kredit meningkat 68%. Dan jika ditarik dari posisi akhir Desember 2020 atau year to date (ytd), kredit melesat 139%. 

Prinsip hati hati dalam penyaluran kredit tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di level 0%. Dengan NPL sangat rendah, Bank Jago tidak perlu membentuk pencadangan dalam jumlah besar, sehingga mampu menekan biaya kredit (cost of credit). 

Pertumbuhan kredit mengerek pendapatan bunga sebesar 289% (yoy). Dengan beban bunga yang hanya meningkat 46%, perseroan mampu membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 423% menjadi Rp139 miliar. 

Hal ini berdampak pada penurunan rasio cost to income dari 289% pada Semester I 2020 menjadi 129% pada Semester I 2021. Kondisi ini turut mendongkrak rasio net interest margin (NIM) dari 4,1% menjadi 5% pada kurun yang sama.

Bank Jago terus mengalokasikan belanja modal untuk investasi IT, pengembangan aplikasi dan rekruitmen talenta baru. Hal ini membuat biaya operasional (operating expense) meningkat 135% menjadi Rp183 miliar. Kenaikan biaya operasional ini berdampak ke perolehan laba periode semester I-2021 yang masih membukukan rugi bersih Rp47 miliar. (hlm)