Bisnis Institusional Citi Gaet Banyak Order, Kinerja Meningkat

FinTechnesia.com | Bisnis perbankan institusional Citi membukukan kuartal yang kuat tahun ini. Terdiri dari berbagai kesepakatan penting dan penghargaan bergengsi.

Secara lokal, unit Banking, Capital Markets and Advisory (BCMA) Citi Indonesia, baru-baru ini berhasil menjadi joint global coordinator untuk rights issue senilai Rp 95,9 triliun dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ini merupakan rights issue terbesar di Asia Tenggara. ‘

Citi berperan penting dalam seluruh aspek pelaksanaan dan pemasaran rights issue end-to-end. Ini merupakan bagian dari rencana Pemerintah Indonesia membentuk perusahaan induk bagi perusahaan pembiayaan mikro negara.

Citi Indonesia juga bertindak sebagai joint lead manager pada proses penawaran uang berdenominasi dollar AS dan Euro oleh Pemerintah Indonesia senilai total Rp 25 triliun (USD 1,8 milyar), pada awal September 2021. Transaksi tersebut terdiri dari USD 600 juta 10-tahun, USD 650 juta 40-tahun, dan EUR 500 juta 12-tahun.

Hasil tahapan Euro akan digunakan untuk inisiatif tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) Pemerintah. Ini juga merupakan transaksi pengelolaan kewajiban pertama Pemerintah Indonesia di pasar modal global. Citi berperan sebagai penasihat penataan pengelolaan kewajiban bagi pemerintah.

Baca juga: CitiDirect dan CitiConnect Dominasi World’s Best Corporate dan Institutional Bank

CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, mengatakan ini akan menjadi fondasi dasar yang kuat. “Kami akan lebih fokus pada layanan perbankan institusional kami di Indonesia ke depan,” kata Batara, Senin (11/10).

Pencapaian penting lainnya selama kuartal ketiga juga termasuk peran Citi Indonesia sebagai penasihat keuangan eksklusif Telkomsel r atas penjualan 4.000 menara telekomunikasi perusahaan di Indonesia, kepada PT Dayamitra Telekomunikasi.

Sementara itu, pada Juli 2021, Citi bertindak sebagai koordinator yunggal, MLAUB dan Agen Fasilitas untuk penutupan pinjaman sindikasi senior tanpa jaminan dan fasilitas kredit bergulir senilai Rp 14.2 triliun (US$ 1 miliar) oleh PT Freeport Indonesia. Fasilitas tersebut untuk mendukung perluasan kapasitas smelter perusahaan dan pembangunan kilang logam mulia.

Asia-Pasifik semakin diharapkan menjadi kawasan pertumbuhan utama bagi perkembangan ekonomi global di tahun-tahun mendatang. Citi juga telah menjadi pemimpin dalam pembiayaan lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) di kawasan ini.

Jan Metzger, Kepala Perbankan, Pasar Modal, dan Penasihat untuk Asia-Pasifik di Citi, mengatakan, pihaknya mencapai rekor peningkatan modal untuk klien, dengan lebih dari Rp 1,4 triliun (USD 100 miliar) yang dikumpulkan tahun ini.

“Ini perpaduan antara penguatan neraca dan pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan. Ada transformasi besar-besaran yang terjadi di semua industri, dan dengan jaringan global yang kami miliki kami dapat mempertajam dialog,” kata Jan. (eko)