Hasil Pantauan OJK Per November 2021, Sektor Keuangan Stabil dan Bertumbuh

FinTechnesia.com | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sektor jaga keuangan tetap stabil dan bertumbuh. Tercermin dari semakin meningkatnya fungsi intermediasi, baik perbankan maupun industri keuangan nonbank (IKNB). Serta meningkatnya penghimpunan dana di pasar modal. 

“Kinerja sektor keuangan yang terjaga dengan baik ini sejalan kerja pengawasan terus dilakukan OJK,” kata Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo, Kamis (25/11).

Selain itu relatif terkendalinya pandemi Covid-19. Dan meningkatnya mobilitas yang berdampak pada peningkatan aktivitas perekonomian. 

Rapat Dewan Komisioner (RDK) November 2021 juga mencatat aktivitas perekonomian global semakin pulih. Tapi tetap perlu dicermati tren kenaikan kasus positif Covid-19 di kawasan Eropa. Sehingga beberapa negara di kawasan itu kembali melakukan peningkatan pembatasan mobilitas. 

Selain itu, perlu juga dicermati dampak tapering off Amerika Serikat (AS). Serta rencana normalisasi kebijakan ekonomi dan moneter di beberapa negara ekonomi utama dunia, seiring kenaikan inflasi.

Fungsi intermediasi perbankan pada Oktober 2021 kembali meningkat. Kredit tumbuh sebesar 3,24% year on year (yoy) atau 3,21% year to date (ytd). 

Secara sektoral, kredit sektor utama tercatat meningkat. Terutama sektor manufaktur dan rumah tangga dengan peningkatan masing-masing Rp 5,3 triliun dan Rp 8,8 triliun. 

Hal ini mencerminkan dukungan perbankan dalam pemulihan ekonomi nasional semakin membaik. Sementara dana pihak ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,44% yoy.

Penghimpunan dana di pasar modal hingga 22 November 2021 mencapai nilai Rp 312,4 triliun atau meningkat 300,7% dari periode sama tahun lalu.

Dan penambahan miten baru sebanyak 43 emiten baru. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih baik. 

Di sektor IKNB, sektor asuransi menghimpun premi pada Oktober 2021 sebesar Rp 23 triliun. Premi asuransi jiwa sebesar Rp 14,1 triliun, serta asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp8,9 triliun. 

Selain itu, fintech peer to peer (P2P)lending pada Oktober 2021 mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan sebesar 110,7% yoy atau Rp 420 miliar (ytd: Rp12,59 triliun)Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan tercatat stabil sebesar Rp 359 triliun.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada Oktober 2021 tetap terjaga baik. Dengan rasio NPL nett menurun sebesar 1,02% (NPL gross: 3,22%). Dan rasio NPF perusahaan pembiayaan sebesar 3,89%

Selain itu, restrukturisasi kredit Covid-19 masih melanjutkan tren penurunan di Oktober 2021. Secara sektoral, sektor ekonomi utama yang terdampak Covid-19, yaitu perdagangan dan manufaktur, menunjukkan perbaikan dengan pergerakan masing-masing sebesar -23,1% (yoy) dan -35,9% (yoy).

Lembaga jasa keuangan juga mencatatkan permodalan yang semakin membaik. Industri perbankan mencatatkan peningkatan rasio kecukupan modal Atau CAR menjadi sebesar 25,34% atau di atas threshold. 

Sementara itu, industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan risk based capital (RBC) meningkat masing-masing sebesar 605,9% dan 352%. Jauh di atas threshold 120 persen. 

Begitu pula pada gearing ratio perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 1,93kali. Jauh di bawah batas maksimum 10 kali. (eko)