Pemerintah dan Lembaga Nirlaba dalam Melayani Masyarakat dengan API WhatsApp 

FinTechnesia.com | Tidak hanya komunikasi dengan teman dan keluarga, WhatsApp dapat membantu kita terhubung dengan pemerintah dan lembaga nirlaba untuk mendapatkan akses mudah ke informasi yang krusial.

Hal ini dimungkinkan oleh Application Programming Interface(API) WhatsApp. API WhatsApp memungkinkan pemerintah dan lembaga nirlaba mengelola volume pertanyaan yang signifikan dan menjangkau masyarakat dalam skala yang besar.

Berikut empat contoh penggunaan unik dan berdampak dari API WhatsApp untuk pelayanan publik:

Chatbot Kemenkes RI: pusat informasi dan bantuan Covid-19.
Chatbot Kemenkes RI dibuat tidak lama setelah pandemi terjadi di tahun 2020 sebagai sumber informasi Covid-19 terpercaya bagin masyarakat. Sekarang, chatbot ini telah digunakan secara luas untuk mempelajari situasi Covid-19 terkini di Indonesia, mengetahui gejala virus, menemukan layanan medis terdekat, hingga mencari jawaban dan solusi atas berbagai pertanyaan terkait pandemi.

“Di masa pandemi, fokus kami adalah menyampaikan informasi secepat mungkin kepada masyarakat luas. Karena banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan WhatsApp, tidak heran kami memilih WhatsApp sebagai media yang paling efektif. Saat ini, chatbot kami diakses hingga lebih dari 1 juta orang per harinya dan digunakan untuk mendistribusikan lebih dari 20 juta tiket booster Covid-19. Jika sebelumnya masyarakat harus menunggu kami membalas email atau telepon, sekarang masyarakat bisa mengakses informasi Covid-19 dengan cepat dan mudah melalui chatbot,” ujar Setiaji, Chief of Digital Transformation Office (CTO), Kementerian Kesehatan, belum lama ini. 

Chatbot WA KEPO: mengakses layanan publik dengan mudah di Kabupaten Sumedang
Di tahun 2021, Pemerintah Kota Sumedang meluncurkan chatbot WA Kepo (WhatsApp Kebutuhan Informasi & Pelayanan Online). Chatbot tersebut kini telah terintegrasi dengan 15 portal seputar Sumedang. 

Masyarakat luas dapat mengakses informasi mengenai pariwisata dan restoran lokal, informasi perpajakan, hingga direktori lokal UMKM di Sumedang. Chatbot ini juga menyediakan layanan cek fakta, bantuan darurat, serta kotak suara bagi masyarakat yang ingin memberikan masukkan terhadap layanan pemerintah.

Chatbot Kalimasada: bot pengecekan fakta oleh MAFINDO.
MAFINDO bermula dari sebuah grup WhatsApp untuk memberantas hoax di tahun 2014. Sejak itu, MAFINDO berkembang menjadi sebuah organisasi yang memiliki 100.000 anggota dan menyediakan pengecekan fakta untuk isu atau informasi viral. Untuk memastikan, layanan ini tersedia 24 jam setiap harinya, MAFINDO membuat chatbot Kalimasada. Saat ini pengguna dapat dengan mudah mengecek keakuratan dari informasi online hanya dengan meneruskan tautan ke chatbot tersebut. Pengguna juga dapat melihat informasi hoaks yang sedang trending, tips untuk memeranginya, dan berlangganan buletin MAFINDO.

“Satu hal yang paling kami soroti dari chatbot Kalimasada adalah interaktivitas. Kami mengumpulkan masukan dari pengguna sebagai acuan untuk meningkatkan pelayanan chatbot dan menambahkan fitur buletin untuk memudahkan kami memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan audiens yang berbeda-beda,” kata Harry Sufehmi, Presidium MAFINDO.

Chatbot CeTing: kampanye dan edukasi anti-stunting oleh 1000 Days Fund.
1000 Days Fund adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat dan edukasi terkait stunting (gangguan tumbuh kembang pada anak). Pada awalnya, mereka hanya mengadakan kegiatan edukasi di NTT, yang merupakan daerah dengan kasus stunting tertinggi di Indonesia. Mereka kemudian mengembangkan cakupan ke seluruh pusat kesehatan di Indonesia melalui poster digital dan pelatihan daring. Kini, mereka menggunakan chatbot CeTing (Cegah Stunting) untuk menyebarkan informasi dan melatih orang tua, pengasuh,serta tenaga medis profesional.

“Seiring perkembangan WhatsApp, kami melihat bagaimana pemerintah dan lembaga nirlaba menjadi semakin kreatif dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas. Kami sangat terinspirasi melihat kreativitas ini. Terutama karena masyarakat Indonesia semakin membutuhkan akses yang mudah dan respon yang cepat atas keperluan mereka,” ungkap Clair Deevy, Direktur Dampak Sosial WhatsApp. (nin)