Jumat, 1 Juli 2022 | 21:48 WIB

Ekonomi Digital Semakin Berkembang, Ini Tiga Kompetensi Agar Bisa Mendapat Pekerjaan di Era Teknologi

BACA JUGA

ads-custom-1

FinTechnesia.com | Ekonomi digital di Indonesia terus berkembang. Setidaknya tercatat 1,2 juta pekerja yang menopang industri ini di tahun 2021.

Perusahaan teknologi pencipta inovasi employee super-app, VENTENY (PT Venteny Fortuna International) meyakini permintaan pasar tenaga kerja di bidang ini akan semakin meningkat. Berbarengan dengan kompetensi baru yangrelevan dengan kebutuhan industri.

Menurut Group Chief Operating Officer VENTENY, Damar Raditya, karyawan perlu memperbarui kompetensi non-teknis atau soft skill yang bersinergi dengan budaya kerja dan perkembangan teknologi modern. Sebab, latar belakang pendidikan tidak lagi menjadi satu-satunya kriteria penilaian utama di mata perusahaan.

VENTENY membagikan setidaknya tiga kompetensi penting di masa depan. Yaitu ketahanan diri dan kemampuan mengelola stress (resilience and stress tolerance), memecahkan masalah kompleks (complex problem solving), dan dan pembelajaran aktif (active learning).

Resilience and stress tolerance

Kemampuan mengelola stres dan bangkit dari situasi sulit adalah kedua kemampuan yang berkaitan serta memiliki dampak cukup signifikan dalam menjawab tantangan kerja di sektor digital. Setiap orang memiliki tingkat sensitivitas terhadap stres yang berbeda.

Hal tersebut, harus menjadi pertimbangan bagi employer ketika memberikan tanggung jawab kepada calon karyawan mereka. Agar mereka tidak terbebani secara mental ketika bekerja. Selain berdampak terhadap kesehatan, hal tersebut juga akan mempengaruhi tingkat produktivitas yang dapat dihasilkan oleh karyawan.

Complex problem solving

Kemampuan pemecahan masalah kompleks adalah serangkaian proses yang melibatkan unsur kognitif, emosional, dan motivasi seseorang. Layanan atau jasa di sektor digital membutuhkan keterampilan dan strategi yang tinggi, berbeda dari permasalahan yang berasal dari rutinitas atau sistem yang sudah teratur. Apalagi terkait dengan dunia digital yang setiap permasalahannya sangat kompleks, dan melibatkan kepentingan banyak orang.

Active learning

Kemampuan belajar dengan aktif akan menentukan kapasitas individu dalam mengolah sumber daya pada diri mereka memahami konsep, mengajukan pertanyaan penting, berdiskusi, dan pada akhirnya mengaplikasikan ilmu tersebut di lingkungannya. Perusahaan yang berencana melakukan transformasi di organisasinya, penting untuk memiliki SDM dengan kapasitas ini, agar perubahan yang ditargetkan dapat tercapai dengan optimal. Salah satu cara mengasah kemampuan active learning adalah dengan membiasakan diri kita terekspos dengan data dan metode belajar berbasis teknologi.

Sayangnya, banyak perusahaan yang belum mampu memanfaatkan potensi ini dengan baik, berbagai faktor seperti ketidakmampuan memberikan pelatihan terhadap karyawannya, sulit mendapatkan akses teknologi yang memadai, dan SDM yang terbatas masih menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh banyak perusahaan.

“Perusahaan yang mau berinvestasi pada karyawan, tidak hanya pada core skill individu saja, namun juga pembentukan mindset dan mentalitas merupakan sebuah langkah progresif dalam mengupayakan employee happiness. Kami yakin dengan pelatihan profesional yang mudah diakses, terintegrasi, dan berkualitas mampu menjawab tantangan profesi baru di era ekonomi digital,” ujar Damar, belum lama ini.

Konsep employee super-app VENTENY yang mengintegrasikan layanan finansial, edukasi, lifestyle, hingga proteksi menuai respon positif dari masyarakat Indonesia. Sepanjang November 2021 hingga Maret 2022, pertumbuhan user download aplikasi VENTENY mencapai 500%. Dengan hassle kurang lebih 80% transaksi.

VENTENY juga memperkuat ekosistem layanan dengan menggandeng sejumlah strategic partner dari kalangan fintech, lembaga pelatihan, dan asuransi, serta tak ketinggalan local merchant. Dalam waktu dekat, VENTENY akan mengumumkan kerjasama tersebut kepada publik. (nin)

ads-custom-1
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER