Jumat, 1 Juli 2022 | 20:50 WIB

Kolaborasi dan Inovasi Menjadi Kunci Digitalisasi Agrikultur di Asia

BACA JUGA

ads-custom-1

FinTechnesia.com | Pemanfaatan teknologi yang tepat dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Termasuk sektor agrikultur.

Digitalisasi agrikultur menjadi salah satu inovasi dalam mendorong sektor pertanian, khususnya bagi negara-negara agraris di Asia.

Penggunaan teknologi dalam agrikultur memberikan keuntungan baik bagi produsen maupun konsumen. Menurut CEO ICDX, Lamon Rutten, sebagai bursa komoditas, ICDX ingin menjadi bagian dari sektor pertanian modern. Dengan menggunakan teknologi, petani dapat mempelajari keinginan pasar.

Dalam pertanian modern, petani mengetahui keinginan pasar dan kemudian memproduksinya. Hal lain yang penting kemudian adalah untuk memiliki tempat pasar yang baik, dan ICDX berharap dapat menjadi pasar itu.

“Kami dapat menyediakan tulang punggung teknologi untuk gudang yang akan menghubungkan petani dengan konsumen, dan ini akan memungkinkan petani untuk memasok ke konsumen secara lebih efisien, mengurangi limbah dalam rantai pasokan,” kata Ruten, bekum lama ini.

Salah satu perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pengembangan teknologi agrikultur, TaniHub menjelaskan, banyak petani yang miskin karena buruknya sistem supply chain agrikultur di Indonesia. Petani harus melewati middle man untuk dapat menjual hasil produksi mereka.

Selain itu sering kali terjadi ketidakcocokan stok di pasar. Sehingga banyak hasil produksi yang kemudian menjadi sia-sia.

“Dengan pemanfaatan teknologi digital, kami memberikan akses ke pasar bagi petani, perkiraan permintaan, memindahkan produk lebih cepat sehingga dapat meningkatkan sistem supply chain,” kata CEO Tanihub, Pamitra Wineka

Agricultural Economist, International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT), mengatakan, pemanfaatan teknologi digital harus berada di tingkat yang dapat diterima lokal. Harus mempertimbangkan berapa banyak petani yang dapat memanfaatkannya, apakah mereka mampu menggunakannya, hingga bagaimana sistem pemerintah dan kerangka regulatory. Sehingga transisinya harus bertahap, tidak bisa sekaligus.

Dalam digitalisasi agrikultur, kebijakan pemerintah berperan sebagai jembatan bagi pembangunan lintas sektor, yang mana akan mendorong sinergi dan partnership berbagai pihak.

Investment Officer, Digital Agriculture, Food and Agriculture Organization (FAO), Gerard Sylvester menjelaskan, e-agriculture dapat menjadi kerangka panduan bagi kerjasama antar sektor bagi manusia dan sumber daya dengan memanfaatkan pembangunan lintas sektoral.

Kolaborasi multi stakeholder harus dipadukan dan setiap pihak harus mengambil bagian dalam inovasi ini. Termasuk sektor swasta dengan mendukung pemerintah untuk membawa inovasi ini ke skala yang lebih besar.

Selain itu, terobosan ini juga dapat membantu para petani agar mendapatkan harga yang baik bagi produknya. Principal Natural Resources and Agriculture Specialist, Asian Development Bank (ADB), Michiko Katagami mengatakan, manfaat dari inovasi ini bagi agribisnis dalam sektor swasta, yaitu dapat mendorong terjadinya price discovery, selain itu juga menciptakan peluang baru untuk investasi.“

Selain dalam bisnis, digitalisasi agrikultur juga memberikan manfaat lingkungan. Pamitra mengatakan, digitalisasi ini juga dapat mengurangi emisi karbon. Petani tidak perlu mengantarkan produknya dari satu pasar ke pasar yang lain, sehingga jejak karbon dapat dikurangi. (jun)

ads-custom-1
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER