Senin, 5 Desember 2022

Awas, Phishing Mengincar Pengguna QRIS

BACA JUGA

- Advertisement -

FinTechnesia.com | Perkembangan teknologi dalam sistem pembayaran telah menggantikan peran uang tunai. Sehingga transaksi nontunai di Indonesia semakin efisien.

Transaksi nontunai semakin diminati dengan Indonesia Standard Quick Response Code (QRIS). Ini merupakan teknologi yang dikembangkan oleh Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia.

QRIS mengintegrasikan seluruh metode pembayaran nontunai di Indonesia. Sejak periode Februari 2022, pengguna sistem QR ini telah mencapai hampir 16 juta. BI menargetkan, penggunaan QRIS akan mencapai 26 juta hingga akhir tahun ini.

Namun, segala kemudahan yang didapat dari digitalisasi keuangan tersebut masih dibayangi oleh risiko siber. Salah satunya yang paling sederhana namun efektif – “phishing”.

Berdasarkan statistik terbaru Kaspersky, sebanyak 356,786 phishing terkait keuangan (finansial) terdeteksi dan telah diblokir terhadap pengguna di Indonesia selama paruh pertama tahun ini. Dari jumlah itu, total 166,857 insiden menargetkan sistem pembayaran.

Statistik tersebut berasal dari data anonim berdasarkan pemicu komponen deterministik dalam sistem anti phishing Kaspersky di komputer para pengguna. Komponen mendeteksi semua halaman dengan konten phishing yang coba dibuka oleh pengguna dengan mengikuti tautan dalam pesan email atau di web, selama tautan ke halaman ini ada di basis data Kaspersky.

Toko online terus menjadi sektor yang menguntungkan bagi para penjahat dunia maya. Sebanyak 169,326 upaya telah digagalkan oleh perusahaan keamanan siber global di Indonesia dari periode Januari hingga Juni 2022.

Baca juga: Trojan Anubis Mengincar Mobile Banking Android dan iOS, Ini Pantauan Kaspersky

Selanjutnya, selama paruh pertama tahun ini, sebanyak 20,603 deteksi upaya phishing di dalam negeri berkaitan dengan perbankan online.

Separuh pertama tahun ini pembatasan sosial di Asia Tenggara telah dibuka kembali. Namun kebiasaan pandemi tampaknya tetap konsisten.

“Meskipun kebebasan tatap muka telah hadir kembali, kita tahu kita masih lebih menyukai melakukan aktivitas perbankan, belanja, dan keuangan secara online karena kenyamanannya yang tak tertandingi,” kata Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, pekan lalu.

Regulator dan para pelaku industri di kawasan ini semuanya mendukung untuk Asia Tenggara lebih maju secara digital. Faktanya, negara-negara di sini siap untuk menghubungkan sistem pembayaran kode QR mereka sebelum tahun berakhir untuk menghilangkan kerepotan pertukaran mata uang.

Ini adalah perkembangan yang disambut baik dengan kesempatan keuntungan ekonomi yang besar, baik bagi kita para pengguna dan para penjahat dunia maya.

“Dengan sebagian besar pengguna di sini menyadari ancaman yang menargetkan uang online, sekarang saatnya untuk bertindak segera dan mengamankan perangkat seluler Anda demi menikmati keuntungan dari ekosistem keuangan regional yang lebih terhubung,” tambah Yeo. (kai)

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER