Selasa, 28 Mei 2024
FINTECHNESIA.COM |

Harga Beras di Dalam Negeri Mahal, Indonesia Jadi Sasaran Penyelundupan

BACA JUGA




FinTechnesia.com | Kepala Bulog (Badan Urusan Logistik) Budi Waseso yang akrab dipanggil Buwas menyebutkan bahwa saat ini mulai banyak penyelundupan beras dari beberapa negara lain masuk ke Indonesia.

Penyelundupan terjadi karena harga beras di pasar Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara penghasil beras seperti Vietnam dan Thaialand.

“Saya tahu mulai marak penyelundupan beras masuk Indonesia, karena di sini harganya lebih mahal.”

“Saya tahu, bahkan hari ini penyelendupan itu terjadi di mana diangkut dengan kapal apa.”

Baca juga: Indonesia Harus Benahi Kebijakan untuk Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global

“Saya tahu informasinya, tapi itu bukan wewenang saya, biar ditangani yang berwenang,” ujar Buwas ketika menjadi nara sumber dalam seminar nasional bertema Pembenahan Kebijakan Pangan Menuju Indonesia Emas di The Sultan Hotel Jakarta, Kamis (16/3/2023).

Selain Buwas, seminar yang dilaksanakan Nagara Institute ini juga menghadirkan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang juga Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, Menteri Perdagangan Zulkufli Hasa, dan Kepala
Badan Pangan Nasoinal (Bapanas) Arief Prasetyo Adi.

Seminar dipandu oleh Direktur Eksekutif Nagara Institue Akbar Faizal.

Buwas menjelaskan, harga beras di pasar dalam negeri memang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain penghasil beras, seperti di Jepang, Vietnam, dan Thailand. Buwas memberi contoh, baru-baru ini Bulog melakukan impor beras dari Jepang.

Baca juga: Distribusi Pangan, Perum Bulog Jalin Kerjasama dengan GoMart

“Harganya Rp9.000 per kilogram sudah sampai gudang Bulog.”

“Sementara, kalau beras produksi sendiri, di pasar domestik harganya bisa Rp13.000 sampai Rp14.000, jauh sekali bedanya,” tegas Buwas.

Disparitas Harga Dimanfaatkan Oknum

Disparitas harga itulah yang menurut Buwas dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu menyelendupkan beras dari luar untuk dipasarkan di dalam negeri dengan memanfaatkan situasi.

Baca juga: Tren Belanja Online Awal Tahun di Tokopedia: Set Top Box dan Sunscreen Laris Manis

Hal ini terjadi, menurut Buwas, harga produk pangan Indonesia memang lebih mahal karena tidak efisien di proses produksi.

“Ini masalah-masalah yang kita hadapi saat ini. Kalau harga di kita lebih tinggi, nanti ada intervensi dari negara lain yang ingin jual di kita karena lebih mahal,” kata Buwas.

Mahalnya harga pangan di Indonesia juga diakui Ketua Umum HKTI Moeldoko.

Menurutnya, biaya produksi per 1 kilogram gabah di Indonesia mencapai Rp290.000, sedangkan di Vietnam hanya Rp1.700.

Baca juga: Duh, Kebocoran Data Layanan Pemesanan Makanan Online

“Kita memang tak efisien, dank arena biaya produksi pertanian mahal sehingga harga pangan juga mahal,” katanya.

Di bagian lain, Moeldoko mengakui memang banyak masalah di sektor pangan di dalam negeri.

“Yang pertama masalah laha. Sudah makin sempit, kondisinya rusak,” katanya.

Kedua, lanjut Moeldoko, masalah akses permodalan.

Baca juga: Menyangga Ketahanan Pangan, Bank BNI Siapkan Program Smartfarming

Meskipun KUR yang disiapkan pemerintah cukup tinggi, dari Rp50 triliun menjadi Rp 70 triliun, petani tetap sulit mengakses bank karena dianggap tidak bankable.

“Ketiga, masalah teknologi. Kalau pun ada teknologi baru, tak serta merta petani mau merima.

Para petani juga mengetahui masalah manajemen,” ujar Moeldoko.


BERITA TERBARU

BERITA PILIHAN

header

POPULER