Berharap Penyaluran Kredit yang Prudent Menggerakkan Kembali Roda Perekenomian

14

FinTechnesia.com | Perekonomian tahun depan berpeluang kembali positif. Pemulihan akan terjadi secara terbatas. Tapi belum bisa kembali ke kondisi sebelum pandemi. Ketersediaan vaksin merupakan faktor kunci dalam percepatan pulihnya aktivitas ekonomi.

Perbaikan sisi permintaan yang didukung penyaluran kredit secara prudent dan kecukupan manajemen risiko merupakan syarat utama menggerakkan kembali roda perekenomian sekaligus perbaikan pertumbuhan ekonomi. Direktur Utama Pefindo Biro Kredit-IdScore, Yohanes Arts Abimanyu mengungkapkan, pandemi telah memengaruhi kemampuan membayar debitur.

Menyebabkan terjadinya perubahan profil risiko debitur dan peningkatan kredit bermasalah (NPL). Data kelolaan portfolio kredit anggota Pefindo Biro Kredit Agustus 2020 tercatat Rp3.335 trilun. Turun 17% dibanding Februari, yang saat itu nilainya Rp4.010 triliun.

Sementara itu, nilai total portfolio kredit total (anggota dan non anggota) per Agustus 2020 tercatat Rp6.033 triliun. Turun 12% dibanding posisi Februari. “Walaupun demikian, nilai portfolio kredit tersebut boleh dibilang relatif terjaga dan stabil selama masa pandemi terhitung sejak Maret. Rata-rata portfolio bulanan anggota tercatat di level Rp3.347 triliun dan total sebesar Rp6.145 triliun” jelas Abimanyu, Kamis (15/10).

Ditinjau dari sisi NPL, data menunjukkan bahwa tingkat NPL anggota Pefindo Biro Kredit pada Agustus 2020 tercatat 3,81% atau naik dibanding Februari yang sebesar 2,81%. Sementara itu, tingkat NPL total (anggota dan non anggota) per Agustus tercatat 4,08% dibanding posisi Februari yang sebesar 2,81%.

Pandemi mengakibatkan berkurangnya kemampuan sebagian debitur yang tercermin dari perubahan sebaran risk grade. Berupa peningkatan persentase debitur high risk dan very high risk dan penurunan persentase debitur kategori very low, low dan average risk.

Total persentase risiko debitur high dan very high masih tergolong tinggi dengan rata-rata di atas 40%. Terus meningkat terutama sejak Maret. Pada Juli, persentase total kategori ini bahkan mencapai 45,2%. Meningkat 3,2% dibandingkan Desember 2019 yang sebesar 41,2%”

Kondisi saat ini menuntut lembaga keuangan untuk mengedepankan pengelolaan risiko dan memanfaatkan semua jenis informasi dan data secara optimal.Aagar risiko dapat termonitor guna mengejar pertumbuhan usaha yang sehat dan berkelanjutan. (mrz)