Cegah Korupsi, IFG Kerjasama Integrasi Whistle Blowing System dengan KPK

20

FinTechnesia.com | PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) melakukan integrasi penanganan pengaduan melalui Whistle-Blowing System (WBS) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, kerja sama ini berkaitan dengan upaya menciptakan proses bisnis (business process) yang transparan dan baik. Kementerian BUMN tengah membuat sistem agar laporan keuangan di lingkungan BUMN terdata secara transparan.

Dan akan dilaporkan ke Kementerian Keuangan serta bisa diakses secara langsung oleh Presiden sebagai pemimpin negara. ”Itu bagian dari transformasi yang pernah kita ungkapkan,”kata Erick, dalam rilis, Rabu (3/3).

Secara total sebanyak 83% perusahaan BUMN telah melakukan penandatanganan kerja sama pencegahan dan pemberantasan korupsi dengan KPK. Termasuk IFG dan 26 perusahaan lain yang melakukan penandatanganan integrasi WBS pada kesempatan yang sama.

Ketua KPK Firli Bahuri menatakan, pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan sendiri. Harus dengan cara sinergi. Menurutnya, BUMN dengan KPK memiliki tugas dan pokok yang sama yaitu mencegah kerugian negara, meningkatkan pendapatan negara, dan menyelamatkan keuangan negara.

Meski begitu sistem saja tidak akan cukup untuk mengatasi persoalan korupsi. Harus diimbangi dengan integritas sumber daya manusia (SDM) itu sendiri. ”Sekuat-kuatnya sistem tergantung SDM. SDM harus bagus karena ada istilah man behind the gun,” ungkap Firli.

Direktur Utama IFG, Robertus Billitea mengatakan, sejak awal beroperasi, IFG berupaya mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Dan terus mendorong penguatan integritas baik di lingkungan holding maupun anggota holding. Hal ini merupakan dasar kuat dan penting mengingat IFG mendapatkan amanah besar di bidang investasi, perasuransian, dan penjaminan.

Termasuk di dalamnya adalah kehadiran IFG Life sebagai perusahaan di bidang asuransi jiwa dan kesehatan yang akan menerima migrasi polis Asuransi Jiwasraya yang telah melalui proses restrukturisasi.

”Sistem terintegrasi yang terbangun menciptakan lingkungan kerja yang semakin positif. Ssehingga berdampak baik bukan hanya kepada kami yang menjalankan roda perusahaan bersama para anggota holding tetapi juga kepada para mitra, nasabah, dan masyarakat pada umumnya,” terang Billitea. (hlm)