Digitalisasi Marak, Hati-Hati Jaga Data Pribadi

14

FinTechnesia.com | Masyarakat semakin terbiasa dengan digitalisasi yang menawarkan berbagai kemudahan . Asia Tenggara salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar dan tercepat di dunia. Dengan total transaksi daring yang diprediksi mencapai USD 10 miliar selama 2020.

Masyarakat Indonesia mengarah ke transformasi digital. Pandemi COVID-19 justru semakin mengakselerasi pertumbuhannya. “Namun, yang terjun ke bisnis digital tanpa betul-betul memahami konsep digital itu sendiri. Sehingga tidak sedikit pula yang terjerat perang harga lewat digital,” ungkap Denny Santoso, Founder dan CEO, Tribelio, Ahad (4/4).

Selain itu, bisnis digital menawarkan beragam kemudaha. Kemudahan digital ini dimanfaatkan oleh beragam jenis bisnis dan industr

Allianz Indonesia sendiri telah mengedepankan digitalisasi sejak fase awal nasabah bergabung,. HIngga melakukan klaim untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang memberikan kemudahan serta pelayanan yang berkesan. Salah satunya melalui layanan Allianz Eazy Connect yang memudahkan nasabah untuk terkoneksi dengan layanan digital Allianz.

Kini, beberapa jenis produk asuransi yang sudah marak ditawarkan secara digital antara lain asuransi mobil, asuransi rumah, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan asuransi perjalanan. Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan berbagai produk asuransi berbasis digital ini melalui bermacam platform. Seperti marketplace C2C (customer]-to-customer), B2C (business-to-customer), platform milik perusahaan asuransi ataupun platform digital lainnya yang dapat diakses menggunakan aplikasi mobile ataupun website.

Riset Swiss Re Institute mengungkapkan bahwa 76% masyarakat Indonesia tertarik membeli produk asuransi digital. Adapun, platform yang paling banyak dipilih untuk mendapatkan produk asuransi ini adalah e-commerce dan fintech.

Namun, kemudahan digital juga mengundang kekhawatiran akan keamanan, terutama dalam hal privasi data. Pada pertengahan 2020, 91 juta data pengguna terpantau diperjualbelikan melalui Dark Web seharga Rp 73,5 juta informasi seperti nama, alamat dan kontak dapat dibaca dengan sangat mudah.

Hal ini tentu dapat menjadi ancaman bagi pengguna untuk aktivitas online yang vital bertransaksi, termasuk membeli asuransi jika tidak didukung oleh peraturan dan sistem yang menunjang.

Perlindungan data pribadi pengguna tentunya menjadi salah satu perhatian utama bagi Allianz Indonesia. PT Asuransi Allianz Life Indonesia dan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia telah meraih Sertifikat ISO 27001:2013 yang menjadi penilaian standar internasional terhadap sistem tata kelola keamanan informasi dan perlindungan data.

“Kami memahami bahwa keamanan siber masih menjadi sebuah tantangan besar. Terlebih sejak terjadinya pandemi COVID-19,” ungkap Mike Sutton, Chief Digital Officer Allianz Life Indonesia. (yof)