Ekonomi Internet Indonesia Menyentuh Rp 624,6 Triliun Tahun Ini

23

FinTechnesia.com | Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mengungkap perkembangan ekonomi digital Indonesia. Dalam laporan tahunan kelimanya, berjudul “At full velocity: Resilient and Racing Ahead”, ekonomi internet tanah air secara keseluruhan diperkirakan bernilai alias gross merchandise value (GMV) US$ 44 miliar atau Rp 624,62 triliun dengan kurs Rp 14.196 per dollar Amerika Serikat pada 2020.

Dan mencapai US$ 124 miliar atau Rp 1.760,3 triliun pada tahun 2025. Memadukan analisis Google Trends, Temasek, dan Bain & Company serta sumber dari industri dan wawancara dengan pakar, laporan ini merinci sektor mana saja yang menunjukkan performa terbaik dan yang paling terdampak pandemi.

E-commerce naik 54% menjadi US$ 32 miliar pada tahun 2020, dari US$ 21 miliar pada tahun 2019. Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan lima kali lipat jumlah supplier lokal yang mencoba berjualan online karena pandemi. “Laporan tahun ini menunjukkan ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh dua digit, dipimpin oleh e-commerce dan media online,” jelas Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf, Selasa (24/11).

Akibat pandemi, sektor tertentu seperti perjalanan dan transportasi memang terhambat. “Tapi seperti yang ditunjukkan laporan ini, hingga 2025 keduanya diperkirakan akan bangkit dalam jangka pendek hingga menengah,” tegas Jusuf.

Pertumbuhan ekonomi internet yang mantap seperti ini juga terjadi di Asia Tenggara. Laporan menemukan bahwa ekonomi digital kawasan ini bertumbuh kian cepat akibat pandemi. Yakni mencapai US$ 100 miliar pada tahun 2020 dan akan melampaui US$ 300 miliar pada tahun 2025.

Pada 2020, lebih dari sepertiga konsumen layanan digital di Asia Tenggara mulai menggunakan layanan online baru karena COVID-19. Di Indonesia pun, 37% konsumen digital menggunakan layanan baru karena wabah.

Lebih dari setengah konsumen digital baru di tanah air atau 56% berasal dari daerah non-metro. Dan 93% dari mereka berkata akan terus menggunakan setidaknya satu layanan digital setelah pandemi berakhir.

Di samping itu, waktu online rata-rata per hari selama pandemi untuk tujuan pribadi tercatat meningkat, dari 3,6 jam sebelum pandemi menjadi 4,7 jam selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kemudian 4,3 jam setelah PSBB.

Laporan regional 2020 ini mencakup lima sektor. Yakni e-commerce, media online, transportasi online, perjalanan, dan layanan keuangan digital. Serta menyentuh dua sektor baru: teknologi pendidikan dan kesehatan (EdTech dan HealthTech).

Dalam lima tahun ke depan, laporan memperkirakan adanya pertumbuhan 21% untuk sektor e-commerce Indonesia. Serta 28% untuk transportasi online dan pengantaran makanan.

Media online juga menunjukkan pertumbuhan positif sejauh ini pada 2020, dengan nilai US$ 4,4 miliar. Naik 24% dari US$ 3,5 miliar pada tahun 2019. Sektor ini diperkirakan akan terus bertumbuh sebesar 18% menjadi US$ 10 miliar pada tahun 2025.

Sektor perjalanan online turun 68% menjadi US$ 3 miliar pada 2020, dari US$ 10 miliar USD pada tahun 2019. Pengantaran makanan dan transportasi juga turun 18% menjadi US$ 5 miliar, dari US$ 6 miliar pada 2019.

“COVID-19 telah mengubah cara hidup banyak orang di Asia Tenggara, dan perkembangan sektor layanan keuangan digital, HealthTech, dan EdTech diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat,” ujar Alessandro Cannarsi, Partner and Leader dari Southeast Asia Private Equity Practice di Bain & Company.

Pendanaan pun tetap solid di Indonesia. Dengan 202 kesepakatan investasi senilai US$ 2,8 miliar selama separuh pertama 2020, dibandingkan total US$ 3,2 milia dari 355 kesepakatan investasi sepanjang tahun 2019.

“Kami masih melihat potensi yang besar dari ekonomi internet Indonesia. Dengan pertumbuhan yang didorong oleh besarnya jumlah pengguna internet yang sangat aktif. Selain itu, banyaknya pengguna baru teknologi berbasis internet serta e-commerce memunculkan prospek untuk usaha-usaha baru di Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan untuk usaha yang sudah ada,” terang Rohit Sipahimalani, Chief Investment Strategist, Temasek. (hlm)