Fintech Dukung Literasi Keuangan Digital

18

FinTechnesia.com | Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 menunjukkan, indeks inklusi keuangan atau penggunaan produk keuangan sudah mencapai 76,19%. Namun masih terdapat kesenjangan angka tersebut dengan indeks literasi keuangan (38,03%) yang menunjukkan pemahaman.

Hal ini memperlihatkan banyak pengguna produk keuangan di Indonesia belum tahu dan terampil menggunakan produk keuangan secara efektif. Padahal, sebagai negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, literasi keuangan yang baik khususnya di ranah digital menjadi penting.

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Teknologi Finansial Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Munawar Kasan menyatakan, literasi keuangan digital memiliki empat komponen. Pertama, mengetahui produk, paham produk dalam industri keuangan digital dan aneka produk fintech.

Kedua, bijak memanfaatkan. Tak hanya memanfaatkan juga meminjam sesuai kebutuhan, menghitung kemampuan membayar, paham bunga, denda. bayar sesuai jumlah dan waktunya.

Ketiga, penting mengetahui risiko dan bagaimana mitigasi, khususnya mengenai penggunaan data pribadi di tengah literasi digital masyarakat yang masih rendah. Terakhir paham selesaikan masalah khususnya terkait pelaporan apabila ada pengaduan.

Inovasi dan kolaborasi regulator dan industri dalam mendorong literasi keuangan terus didorong oleh pelaku industri fintech lending. Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), Kuseryansyah menekankan, di tengah fintech adoption di Indonesia yang masih dibawah 34% dan funding gap Rp 989 triliun, kolaborasi regulator dan industri, serta inovasi dari pelaku ekosistem digital penting dalam memaksimalkan pemanfaatan kehadiran kemudahan akses keuangan digital saat ini secara bijak.

“Kami berharap pelaku industri fintech dapat terus mendukung program literasi keuangan digital. Sesuai misi AFPI dan program OJK dan pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional,” ujar Kuseryansyah. (eko)