Kolaborasi Industri Keuangan Mendukung Pembiayaan UMKM

26

FinTechnesia.com | Penyaluran kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perbankan masih melambat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) outstanding penyaluran kredit UMKM per November 2020 mencapai Rp1.024 triliun. Turun 2% secara tahunan.

Pertumbuhan penyaluran kredit UMKM terus melambat sejak awal 2020. Pertumbuhan di Januari 2020 masih tercatat tinggi sebesar 8,2% yoy.

Dari jenis penggunaan, kredit investasi turun lebih dalam, kontraksi 3%. Sementara kredit modal kerja terkontraksi 1,6%. Jangkauan penyaluran kredit relatif berimbang antara Jawa (59%) dan luar Jawa (41%). Sementara penurunan pinjaman relatif sama antara Jawa dan luar Jawa, masing-masing turun 2,0% (yoy).

Pembiayaan peer to peer lending (P2P) juga dalam tren melambat. Berdasarkan data OJK, total penyaluran pinjaman P2P financial technology (fintech) hingga Desember 2020 mencapai Rp 155,9 triliun. Tumbuh 91% dibanding Desember tahun lalu.

Pinjaman berasal dari 149 pelaku fintech. Mayoritas
penyaluran berada di Jawa (85%). Outstanding pinjaman di luar Jawa tumbuh lebih tinggi (48,4%, ytd). Sementara di Jawa hanya tumbuh 11,2% (ytd).

Per Desember 2020, outstanding pinjaman P2P mencapai Rp15,3 triliun, hanya tumbuh 16,4% secara tahunan. Pertumbuhan outstanding pinjaman ini terus
melambat sejak awal 2020. Pada periode tersebut outstanding pinjaman mampu tumbuh di atas 100%.

Berdasarkan survei permintaan dan penawaran pembiayaan perbankan Januari 2021 yang dilakukan oleh Bank Indonesia, penyaluran kredit baru diperkirakan meningkat tiga bulan mendatang. Terutama didorong oleh kredit modal kerja untuk mendukung aktivitas operasional.

Survei tersebut juga menunjukkan kebijakan penyaluran kredit pada kuartal I 2021 diperkirakan tidak seketat periode triwulan sebelumnya. Terkait preferensi memilih sumber pembiayaan, aspek kecepatan, kemudahan memperoleh dana serta biaya
pinjaman yang lebih murah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sumber pembiayaan.

“Kolaborasi pembiayaan secara digital perlu terus ditingkatkan. Dengan mobilitas masyarakat yang masih terbatas, perbankan perlu terus meningkatkan
keandalan sistem penyaluran pinjaman secara digital,” tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri, Selasa (23/2).

Terutama untuk membantu pembiayaan bagi para pelaku UMKM pada sektor-sektor usaha yang relatif kurang terdampak penurunan kondisi ekonomi. Atau yang mampu pulih lebih cepat. Di saat bersamaan, perlu terus berkolaborasi dengan perusahaan P2P dalam menyalurkan pinjaman dengan jangkauan yang lebih luas, proses yang lebih cepat dan mudah, biaya yang lebih murah, dengan manajemen risiko yang lebih terukur berbasiskan digital assessment. (eko)