Masa Depan Industri dan Teknologi Asia Pasifik

14

FinTechnesia.com | Mengalihkan bisnis ke ruang virtual yang cerdas dan terhubung bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup. Apalagi ditambah tekanan yang ditimbulkan oleh pandemi.

Sebuah studi baru Deloitte menunjukkan sebagian besar (96%) perusahaan Asia Pasifik (APAC) mengungkapkan, mereka menemukan peluang dalam Industri 4.0. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global yaitu sebesar 51%.

Tingkat digitalisasi Asia Pasifik masih berada dalam tahap awal. Hingga akhirnya pandemi memaksa semua orang untuk mempertimbangkan kembali praktik operasional mereka. Kehadiran Industri 4.0 ini merupakan sebuah revolusi yang mengutamakan konsumen sebagai pilar pentingnya.

“Bersama terobosan seperti big data, internet of things (IoT), 5G, Industri 4.0 hadir untuk menciptakan masa depan sesuai dengan apa yang kita kehendaki,” ujar Stephan Neumeier, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, pekan lalu.

Masa depan yang dikehendaki (Customised future) berarti produk dan layanan diciptakan berdasarkan preferensi konsumen. Ini juga dikenal sebagai “personalisasi”, sebuah tren yang diperkenalkan oleh ultra-broadband seluler 4G.

Menghadirkan kekuatan pada ujung jari manusia memanggil taksi, saat membutuhkan.mengalirkan lagu atau konten yang diinginkan, dan banyak lagi.
Dengan meningkatnya kemajuan teknologi, mayoritas konsumen (83%) menghargai pengalaman yang dipersonalisasi terbukti dengan kesediaan mereka untuk memberikan data demi mewujudkannya.

Faktanya, konsumen secara tidak sadar memberikan lebih banyak data daripada yang mereka pikir sebelumnya. Misalnya, sesederhana pilihan lagu yang dibuat beberapa kali.

Kemudian dianalisis memungkinkan perusahaan streaming musik memprediksi suasana hati pengguna pada waktu dan lokasi tertentu. Hal yang sama juga berlaku untuk aplikasi kencan yang dapat mengetahui apakah seseorang dalam keadaan sedih dan rentan, pada jam berapa, hanya berdasarkan jumlah swipe konsumen dari kiri ke kanan.

Dalam hal pelacakan lokasi, para konsumen telah membagikan lokasi mereka secara real-time, bahkan sebelum pandemi terjadi. Dengan konsumen menggunakan peta virtual untuk menemukan jalan atau mengetahui situasi lalu lintas, secara langsung juga memberdayakan aplikasi tersebut dalam mengumpulkan sejumlah besar data. Sehingga memungkinkan memprediksi pola perilaku dan fisik mereka. Data tersebut menjadi berisiko apabila akhirnya berada di tangan yang salah.

Dengan jumlah informasi tersebut, masa depan yang dikehendaki sangat mungkin terjadi karena banyak perusahaan sekarang mengenal konsumen mereka lebih baik daripada konsumen itu sendiri

Beberapa start-up di seluruh dunia, menyadari permintaan tersebut, dan akhirnya mengeksekusi kustomisasi massal mereka. Para pelanggan kini dapat memiliki nama mereka sendiri di sol sepatu mereka, mendapatkan kalung pesanan, serta implan tubuh dan dosis obat yang disesuaikan, dan banyak lagi.

Meskipun fenomena tersebut adalah bukti kekuatan teknologi saat dimanfaatkan dengan tepat. Tapi proses manufaktur yang fleksibel dan sangat terhubung ini juga membuka permukaan serangan yang lebih luas bagi para pelaku kejahatan siber. L

aporan terbaru dari Kaspersky untuk sistem otomasi industri menunjukkan bahwa Asia dan Afrika adalah kawasan yang paling tidak aman secara global selama enam bulan pertama tahun 2020. (yof)