Meski Bisnis Lawas, RBT Masih Menjadi Andalan Pemusik

22
Teknisi sedang bekerja di atas tower BTS (Base Transceiver Station) XL Axiata yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (29/02).
Teknisi sedang bekerja di atas tower BTS (Base Transceiver Station) XL Axiata yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (29/02).

FinTechnesia.com | Saat ini, ring back tones (RBT) menjadi andalan pemusik memasarkan karya mereka di pasar yang kian kompetitif. Termasuk, membuka peluang yang sama bagi pelaku indie menjangkau lebih banyak orang dengan biaya minimal.

Konsep berlangganan RBT sesuai perubahan perilaku masyarakat. “Saat ini yang lebih suka melakukan pembelian dalam jumlah mikro atau pay-as-you-go,” kata Megan Faustine, Marketing and Business Development Assistant Manager Forest Interactive Indonesia, melalui siaran pers, Jumat (11/9).

Para artis aktif mempromosikan kode RBT di saluran YouTube dan akun media sosial mereka. Forest Interactive, penyedia layanan value added service (VAS) dan RBT gencar mempromosikan RBT melalui fitur saluran operator telekomunikasi.

Seperti RTB Copy, UMB, dan Gift Data (bundling dengan paket internet). “Kami berharap upaya ini dapat membantu para musisi dan komunitas indie melalui masa-masa sulit selama pandemi,” ujarnya.

Menariknya, layanan yang ditawarkan oleh operator telekomunikasi ini tergolong bisnis lawas. RBT sudah ada sejak 20 tahun silam, tepatnya pertengahan 2000.

Meski begitu, Megan meyakini jumlah pelanggan RBT bakal bertambah. Hal ini seiring laporan GSMA Intelligence yang memprediksi Indonesia menjadi salah satu pasar smartphone terbesar secara global pada tahun 2025. Dengan 96,4% pengguna prabayar.

Nah, pelanggan RBT didominasi oleh pengguna prabayar. Berdasarkan data Forest Interactive, pelanggan RBT mereka didominasi masyarakat dari Jawa Timur. Adapun genre yang paling diminati adalah lagu-lagu Jawa. (mrz)