Meski Pandemi dan Persaingan Ketat, Kinerja XL Axiata Tetap Tumbuh

13

FinTechnesia.com | XL Axiata berhasil mencatat pertumbuhan yang solid. Kenaikan tersebut di tengah pandemi corona yang masih berkecamuk.

Pendapatan layanan naik lebih dari 6% dibandingkan periode sama dari tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

Tingkat profitabilitas berkelanjutan terjaga dengan baik. EBITDA meningkat 31% yoy. Perusahaan kembali mencetak laba bersih dinormalisasi sebesar Rp 679 miliar.

Di sepanjang 2020, kontribusi pendapatan dari data mencapai 92%, dengan penetrasi smartphone mencapai 89%. Tertinggi secara industri.

Rerata pendapatan per pelanggan atau ARPU campuran meningkat dari tahun sebelumnya Rp sebesar 35.000 menjadi Rp 36.000. Sementara itu, pembangunan jaringan data 4G terus berlangsung.

Hingga akhir 2020 mencapai 458 kota/kabupaten. Dengan lebih dari 54.000 base transceiver station (BTS) 4G.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan, sepanjang tahun 2020, XL Axiata berfokus pada keunggulan operasional untuk mendorong digitalisasi bisnis dengan menerapkan otomatisasi dan simplicity. Pada saat yang sama, membangun keintiman dengan pelanggan.

Memastikan kedua merek yaitu XL dan AXIS mencapai NPS (net promotor score) yang kuat pada segmen pelanggan yang menjadi target melalui beragam produk yang sesuai kebutuhan mereka, serta peningkatan kualitas jaringan berkesinambungan. “Terkait pandemi, kami memastikan kelangsungan bisnis perusahaan tidak terganggu dengan menerapkan adaptasi pada norma baru,” kata Dian, Senin (15/2).

Beban operasional per akhir 2020 turun -15% yoy. Didorong berkurangnya beban infrastruktur hingga -30% yoy. Ha ini ini sebagai hasil dari adopsi IFRS 16.

Interkoneksi dan beban langsung lain juga turun -25% yoy. Terutama interkoneksi yang lebih rendah sebagai akibat dari penurunan trafik layanan SMS dan voice. Sementara itu, beban pemasaran menurun -8% yoy. Pergeseran pengeluaran yang kini lebih banyak pada penggunaan saluran digital.

Pada sisi jaringan, trafik data sepanjang tahun 2020 meningkat 47% yoy, dari 3.320 petabyte menjadi 4.869 petabyte. Sementara itu per kuartal, trafik di akhir kuartal keempat, trafik data meningkat 8% qoq.

Peningkatan trafik tidak terlepas dari bertambahnya jumlah total pelanggan, yaitu menjadi 57,89 juta. Meningkat dari kuartal sebelumnya sebanyak 56,88 juta.

Realokasi kapasitas 3G ke 4G yang dipercepat selama periode satu tahun di 2020 seiringpenurunan trafik penggunaan layanan 3G yang hanya mencapai kurang dari 10% dari total trafik data. Meskipun demikian, upaya mengurangi umur aset 3G yang berguna tersebut sejalan dengan tujuan untuk menghasilkan penghematan depresiasi. Dan akan meningkatkan profitabilitas di masa depan.  

Pemanfaatan digital IT, artificial intelligent dan data analytics juga terus dilanjutkan perusahaan untuk mengidentifikasi apa saja kebutuhan setiap segmen pelanggan atas layanan telekomunikasi dan data. Dengan demikian perusahaan bisa lebih tepat dalam pembuatan produk layanan baru yang memang dibutuhkan setiap segmen pelanggan. Selain itu, penawaran produk juga bisa lebih terarah, sesuai dengan karakter setiap segmen.

Pandemi Covid-19 tidak menghalangi XL Axiata untuk terus membangun jaringan. Hingga akhir 2020, XL Axiata memiliki lebih dari 144.000 BTS. Meningkat sekitar 11% yoy Dari total sebanyak itu, 54.297 merupakan BTS 4G.

Guna menyiapkan jaringan menuju 5G, XL Axiata melanjutkan proses fiberisasi jaringan. Fiberisasi ini untuk mendukung peningkatan kualitas jaringan data di setiap area karena salah satu manfaat dari proses ini adalah kapasitas jaringan transportasi menjadi lebih besar. Fiberisasi terbukti mampu meningkatkan kualitas jaringan untuk menopang sejumlah layanan data dengan kapasitas besar, seperti antara lain live video streaming.  

Dari sisi kondisi finansial, neraca perusahaan tetap sehat. Saldo kas yang lebih tinggi setelah mendapat tambahan dari hasil penjualan menara. Free Cash Flow (FCF) juga ada pada tingkat yang sehat, yaitu sebesar Rp 6,46 triliun atau meningkat hingga 76% yoy .

XL Axiata tidak memiliki pinjaman dalam dollar Amerika Serikat. Sebesar 67% berbunga floating dan masa jatuh tempo yang tidak bersamaan. (sya)