Tantangan Industri Perbankan Tahun Depan Masih Berat

24

FinTechnesia.com | Industri perbankan mengalami tekanan cukup besar tahun ini akibat dampak pandemil. Tantangan industri perbankan tahun ini yang terbesar sejak krisis moneter di tahun 1998-1999.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, pertumbuhan kredit perbankan sampai dengan bulan September 2020 hanya tumbuh 0,12% year on year (yoy). Ini pertumbuhan kredit terendah sejak bulan Mei tahun 200., atau lebih dari 18 tahun terakhir.

Pada saat yang sama, kualitas aset perbankan cenderung menurun. Dengan NPL sampai bulan Agustus 2020 tercatat sebesar 3,22%, tertinggi selama empat tahun terakhir.

OJK menyebutkan, pada bulan September NPL sedikit menurun menjadi 3,15%. Mengingat bank masih terus melakukan restrukturisasi kredit. Bank-bank masih terus melakukan proses restrukturisasi hingga saat ini. Menurut data OJK, sampai 28 September 2020, total kredit dari 100 bank yang telah direstrukturisasi, yang khusus terkena dampak Covid-19, mencapai Rp 904,3 triliun, dari total debitur sebanyak 7,5 juta.

OJK memperketat perpanjangan relaksasi restrukturisasi kredit. OJK telah berkomitmen untuk memperpanjang program relaksasi restrukturisasi kredit terimbas pandemi. Namun ketentuan perpanjangan tersebut akan diperketat karena berkaitan dengan peningkatan manajemen risiko agar bank dapat mengantisipasi dampak lanjutan pasca-kebijakan restrukturisasi berakhir.

Tantangan masih cukup tinggi dan bank masih harus berhati-hati di tahun 2021 untuk menjaga kualitas aset. Dalam penjelasan tertulis, Office of Chief Economist Bank Mandiri berharap, pemulihan ekonomi mulai berjalan secara gradual pada tahun 2021. Meski masih belum kembali normal seperti sebelum terjadinya pandemi.

Bank Mandiri memperkirakan, pertumbuhan kredit berkisar 1-1,5% tahun ini dan membaik menjadi 5% tahun depan. Di sisi lain, NPL kemungkinan masih akan tetap stabil sekitar 3%-3,5% di akhir tahun karena restrukturisasi yang masih berlanjut.

“Bank masih akan tetap selektif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga kualitas aset,” tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri, Selasa (24/11). (yof)