Traveling Era Pandemi Dari Perspektif Keamanan

13

FinTechnesia.com | Pandemi COVID-19 berdampak besar pada perjalanan (travelling) fisik. Baik alasan bisnis maupun pribadi seperti liburan.

Lalu beralih ke alternatif digital untuk rapat dan komunikasi masih belum dapat memenuhi kebutuhan dunia modern kita secara menyeluruh. Pertemuan yang membutuhkan kehadiran fisik masih diperlukan. Artinya perjalanan masih diminati.

Hal yang sama berlaku untuk perjalanan liburan. Yang akan mendorong pemulihan industri pariwisata beberapa tahun mendatang. Mengingat kehadiran vaksin di tengah masyarakat baru-baru ini.

Dampak COVID tidak hanya terlihat pada aspek fisik perjalanan. Tapi juga di ranah digital. Di sisi lain berpotensi adanya ancaman baru.

Dengan kebutuhan untuk memantau penyebaran infeksi Covid-19, berbagai metode pelacakan diperkenalkan. Seperti mendaftar secara online untuk makan di restoran atau menulis nama dan detail alamat Anda di atas kertas saat memasuki bar. Anda menyerahkan data pribadi kepada orang yang tidak dikenal.

Pelacakan lokasi fisik yang tak terhindarkan menimbulkan ancaman besar bagi privasi, yang hingga saat ini belum terpecahkan. Pelaku kejahatan siber mungkin dapat mengakses data tersebut dan menggunakannya untuk serangan lebih lanjut. Mulai phishing, spam, hingga malware seperti ransomware.

Terlebih lagi, beberapa negara mengharuskan para wisatawan untuk tidak hanya melakukan tes medis. Tapi juga berbagi informasi pribadi dalam jumlah besar, mungkin dengan mewajibkan mereka memasang aplikasi pelacakan

Sehingga memungkinkan pengawasan permanen yang ditargetkan. Sulit memperkirakan berapa lama kebijakan semacam itu diberlakukan, tetapi mungkin akan tetap eksis di beberapa negara.

Tahun lalu Kaspersky melakukan studi tentang peretasan visual dan suara (shoulder surfing), yaitu masalah umum saat bepergian.

Sementara dunia fisik dan digital terus menyatu dan semakin menimbulkan garis kabur, keamanan menjadi penting bahkan lebih daripada sebelumnya. “Tindakan pencegahan paling mendasar yang harus diambil adalah menyadari risiko dan berhati-hati tentang perilaku dan data pribadi Anda,” terang Marco Preuss, Direktur Global Research & Analysis (GReAT) Team Eropa di Kaspersky, pekan lalu. (yof)