Sabtu, 3 Desember 2022

Efek Ekonomi Lesu: Kualitas Kredit Turun, Bank Perbesar Pencadangan, Laba Menurun

BACA JUGA

- Advertisement -

Fintechnesia.com | Lesunya perekonomian tanah air tercermin dari kinerja industri perbankan. Sepanjang tahun 2019, bank terpaksa mengerem penyaluran kredit. Jika jor-joran, industri perbankan khawatir akan meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Direktur Finance, Planning, dan Tresuri Bank Tabungan Negara (BTN), Nixon L. P. Napitupulu dalam rilis mengatakan, tahun lalu merupakan periode menantang. Kewajiban mempersiapkan implementasi aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 hingga pengetatan likuiditas menekan kinerja.

Implementasi aturan anyar tersebut, BTN melakukan penyesuaian kolektibilitas kredit. Walhasil, tahun lalu bank BUMN ini mencatatkan laba Rp 209 miliar. Ambyar 92,55% dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat Rp 2,81 triliun. “Tahun ini kami  memperbaiki kualitas kredit dan memacu penghimpunan dana pihak ketiga (DPK),” jelas Nixon.

Nasib serupa menimpa Maybank Indonesia. Tahun lalu, pencadangan Maybank  meningkat 35,9% menjadi Rp 1,8 triliun. Pencadangan terutama berasal dari segmen komersial.  Pembentukan pencadangan ini menyebabkan laba Maybank turun  16% secara year on year (yoy) dari Rp 2,2 triliun tahun  2018 menjadi Rp 1,8 triliun pada 2019. Lesunya ekonomi tahun lalu menyebabkan penyaluran kredit turun 8,1% ke  Rp 122,6 triliun.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan, 2019 kembali menjadi tahun yang menantang, tetapi Maybank Indonesia berhasil memperoleh pendapatan operasional yang baik di tengah menurunnya pertumbuhan kredit.  “Fee income dari transaksi melalui channel M2U, bancassurancewealth management fee meningkat tajam dan menjadi penopang pertumbuhan pendapatan Maybank Indonesia,” ujarnya.

CIMB Niaga juga tercatat menaikkan biaya provsi 7,5% year on year. Dan rasio loan loss coverage (“LLC”)meningkat menjadi 113,60%. Tapi emiten berkode BNGA ini masih beruntung. Laba bersih konsolidasi (diaudit) sebesar Rp 3,9 triliun pada periode yang berakhir 31 Desember 2019 naik 12,4% yoy. “Pendapatan operasional naik sebesar 6,3% yoy, terutama kontribusi kenaikan pendapatan non-bunga atau non interest income sebesar 11,6% yoy,” kata Presiden Direktur CIMB Niaga, Tigor M. Siahaan.

Nah, tahun 2020 ini beban perbankan bertambah berat. Apalagi jika virus korona yang menghantam China belum teratasi dan menyebabkan penurunan ekspor Indonesia ke negara itu. (eko)

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER