Kamis, 1 Desember 2022

Virus Corona Semakin Liar, Bagaimana Stabilitas Sektor Jasa Keuangan? Ini Penjelasan OJK

BACA JUGA

- Advertisement -

FinTechnesia.com | Virus corona atau Covid-19 masih terus menghantui banyak negara, termasuk Indonesia. Kendati begitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, stabilitas sektor jasa keuangan sampai Maret ini masih dalam kondisi terjaga. Intermediasi sektor jasa keuangan masih membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan tetap terkendali. 

OJK sejak Februari lalu mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus perekonomian sektor perbankan, pasar modal dan industri keuangan non bank. Langkah ini diharapkan menjadi countercyclical dampak penyebaran virus corona. Sehingga bisa mendorong optimalisasi kinerja industri jasa keuangan khususnya fungsi intermediasi, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dalam penjelasan Jumar (27/3), OJK menegaskan, senantiasa memantau perkembangan ekonomi global yang sangat dinamis dan memitigasi potensi risiko sektor jasa keuangan domestik. Kondisi perekonomian global diperkirakan terkontraksi cukup pada semester I-2020. Dan mulai pulih pada semester II-2020. Namun pulihnya perekonomian global sangat bergantung pada berakhirnya wabah virus corona.

Perekonomian Amerika Serika dan Eropa diprediksi terkontraksi pada kuartal II-2020, mengingat penyebaran virus corona di AS dan Eropa baru mencapai puncaknya pada April dan Mei. Sedangkan perekonomian Tiongkok diprediksi membaik pada kuartal II-2020 sejalan mulai melambatnya penyebaran corona di negara itu.

Tingginya sentimen negatif akibat virus corona mempengaruhi kinerja sektor jasa keuangan domestik, khususnya di pasar keuangan. Baik pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Sejak awal Maret 2020 sampai 24 Maret 2020, investor nonresiden tercatat keluar dari pasar saham dan SBN masing-masing sebesar Rp 6,11 triliun dan Rp 98,28 triliun (data DJPPR: 23 Maret 2020). Pasar saham melemah signifikan 27,79% mount tio date (mtd) atau 37,49% year to date (ytd). Diikutipelemahan di pasar SBN dengan yield yang rata-rata naik sebesar 118,8 basis point (bps) mtd atau 95 bps ytd. Pelemahan ini akibat kekhawatiran investor terhadap virus Corona yang berdampak pada kinerja emiten di Indonesia.

Sementara itu, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan Februari 2020 bergerak sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik. Kredit perbankan tumbuh 5,93% yoy, ditopang kredit investasi tetap tumbuh double digit di level 10,29% yoy. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan meningkat 2,82% yoy.

Di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan, profil risiko masih terjaga. Rasio NPL gross sebesar 2,79%, NPL net 1% dan Rasio NPF sebesar 2,66%.

Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,80% yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit. Selain itu, sepanjang Februari 2020, industri asuransi berhasil menghimpun premi sebesar Rp 46,5 triliun dan tumbuh sebesar 4,73% yoy.

Sampai 24 Maret 2020, penghimpunan dana melalui pasar modal mencapai Rp 21,55 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada tahun ini ada 13 perusahaan. Dengan pipeline penawaran sebanyak 61 emiten dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 28,8 triliun.

Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan pada level memadai. Liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing 212,30% dan 108,12%. Jauh di atas threshold masing-masing sebesar 100% dan 50%. Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. Capital adequacy ratio (CAR) perbankan sebesar 22,42%. Sejalan dengan itu, risk based capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing 670% dan 312%. Jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. (mrz)

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER