Selasa, 9 Agustus 2022 | 11:19 WIB

Skenario Terburuk Dampak Virus Corona, Rupiah Bisa ke Rp 20.000 per dollar AS

BACA JUGA

ads-custom-1

FinTechnesia.com | Dampak virus corona semakin mengerikan. Tak cuma terhadap kesehatan tapi juga ekonomi. Dalam video conference Rabu (1/4), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyebut, skenario terburuk nilai tukar rupiah bisa menyentuh Rp 17.500 sampai Rp 20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun ini.

Skenario ini muncul akibat tekanan ekonomi yang berat di tengah penyebaran pandemi virus corona atau covid-19. “Asumsi makro skenario ini untuk mencegah agar tidak terjadi,” ungkap Menteri Keuangan dan Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati Rabu (1/4).

Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Anggota KSSK, Perry Warjiyo mengatakan, proyeksi kurs rupiah itu langkah persiapan ke depan mengantisipasi dampak terburuk pandemi corona. “Skenario berat tadi adalah forward looking sebagai antisipasi supaya tidak terjadi, agar skenario berat tidak terjadi. Maka kurs Rp17.500 sampai Rp 20.000 per dolar AS itu akan kami antisipasi agar tidak terjadi,” jelasnya. Perry memastikan kondisi kurs rupiah masih terjaga. Saat ini, rupiah berada di kisaran Rp 16.400 per dolar AS di perdagangan pasar spot.

Perry mengklaim hal ini terjadi karena bank sentral nasional senantiasa berada di pasar melalui tiga bentuk intervensi. Agar nilai tukar mata uang Garuda tidak jatuh lebih dalam.

Intervensi dilakukan di perdagangan pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas asing. “Rupiah saat ini sudah memadai,” kata Perry

Selain intervensi, BI juga menambah likuiditas di perbankan melalui pelonggaran batas cadangan kas bank di bank sentral atau Giro Wajib Minimum (GWM). Dari pelonggaran, setidaknya BI menambah likuiditas ke bank sebanyak Rp 74 triliun dalam rupiah dan US$ 3,2 miliar dalam valuta asing.

Berbagai upaya ini guna menstabilkan nilai tukar rupiah yang kemungkinan masih bergerak fluktuatif karena besarnya aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari Indonesia. BI mencatat dana asing yang keluar mencapai Rp 167,9 triliun pada periode 20 Januari sampai 30 Maret 2020. “Sebagian besar di SBN Rp153,4 triliun dan saham Rp13,4 triliun. Pembalikan modal ini terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia sehingga rupiah melemah,” tutur Perry.

BI sudah membeli SBN dengan nilai mencapai Rp166 triliun. Sedangkan bila digabung dengan intervensi penambahan likuiditas ke bank, intervensi sudah hampir Rp 300 triliun. (eko)

ads-custom-1
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER