Sabtu, 10 Desember 2022

Hadapi Pandemik Corona Saat Bulan Ramadhan, Ini Strategi Bisnis yang Bisa Dilakukan

BACA JUGA

- Advertisement -

FinTechnesia.com | Meski wabah corona melanda, bisnis harus bisa berjalan. Moka, startup penyedia layanan kasir digital, menghadirkan data dan wawasan terkini mengenai bisnis di bulan Ramadhan di tengah pandemik COVID-19. Paparan data dan diskusi interaktif ini memberikan tiga gambaran utama untuk bisnis. Yaitu tradisi belanja industri F&B, ritel dan jasa di bulan Ramadan, antisipasi dan strategi brand di tengah krisis dan perubahan perilaku konsumen akibat COVID-19.

Selama pandemik COVID-19, penurunan pendapatan harian di berbagai industri tidak dapat dihindari. Pada industri F&B, pendapatan harian bisnis turun hingga lebih dari 40%. Bahkan satu dari tiga bisnis F&B di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan saat COVID-19. Di balik itu, data Moka menunjukkan penggunaan jasa layanan antar meningkat hingga 30%.

Tren konsumsi Ramadhan sebelum krisis pandemik COVID-19 ini, terjadi peningkatan 67% dari jumlah gerai F&B yang beroperasi di antara jam 2-4 pagi. Dini hari, konsumen memilih makanan praktis untuk sahur dan membeli untuk hidangan grup hingga 5 produk per transaksi. Pada industri ritel fesyen, terjadi peningkatan jumlah pendapatan hingga 50%.

Tiga item terpopuler yang terjual selama Ramadan adalah tunik, hijab dan gamis. Ketiganya berangsur-angsur menurun kembali setelah Ramadan usai. Berbeda dengan industri ritel, pendapatan jasa kecantikan justru meningkathingga 54% satu bulan setelah Ramadan. Hal itu menunjukkan pola bahwa masyarakat seringkali melakukan perawatan kecantikan setelah Ramadan usai.

Meskipun pola konsumsi akan berbeda karena adanya pandemik COVID-19, bukan berarti tren Ramadhan tahun lalu bisa kita hiraukan sepenuhnya. Hutami Nadya, Data Analyst Moka menjelaskan, salah satu strategi adalah fokus pembelanjaan online. Untuk memaksimalkan pembelanjaan dengan jasa antar, baik untuk F&B ataupun ritel dan service, pelaku usaha dapat berinovasi dengan membuat menu khusus delivery yang dapat dimasak dan diolah sendiri oleh para konsumen sehingga dapat dimanfaatkan di waktu khusus seperti sahur dan buka bersama anggota keluarga di rumah.

Begitu juga dengan ritel dan jasa, pelaku usaha dapat membuat paket khusus untuk mendorong konsumen membeli secara online. Dan mengubah jasa menjadi suatu produk yang bisa digunakan oleh konsumen di rumah.

Para pelaku usaha dapat memperhatikan tren masyarakat. Misalnya kegiatan masak di rumah, bisnis F&B dapat shifting untuk menyediakan bahan baku makanan siap masak dengan opsi jasa pengantaran untuk mendukung social distancing. “Ramadhan adalah momen yang tepat untuk berbagi bersama yang lebih membutuhkan, kita bisa mulai dengan menambahkan opsi menu untuk didonasikan ke yang membutuhkan. Untuk mendapatkan cashflow positif, merchant juga bisa memberlakukan skema pay-it-forward untuk pelanggan,” paparnya, Rabu (17/4).

Pay it forward merupakan skema di mana pelanggan dapat membeli terlebih dahulu paket produk atau jasa dari suatu bisnis yang manfaatnya bisa dirasakan hingga beberapa waktu ke depan. Biasanya, pelaku usaha dapat mengaplikasikan potongan harga dengan bentuk berupa kupon untuk para pelanggan. Skema ini diharapkan membantu pelaku usaha untuk mendapatkan cashflow positif untuk membiayai rental tempat, gaji karyawan, cicilan modal usaha, asuransi, stok bahan baku, dana perbaikan dan pengeluaran lain. (sya)

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER