Jumat, 1 Juli 2022 | 20:59 WIB

Pembayaran Digital Harus Jadi Perhatian UMKM di Asia Tenggara 

BACA JUGA

ads-custom-1

FinTechnesia.com | Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus mulai menggunakan pembayaran digital untuk transaksi keuangan. Temuan ini setelah Kaspersky meneliti 1.618 orang. Lebih dari separuh pengguna e-finance (67%) di Asia Tenggara menyatakan hal tersebut.

Penelitan dalam upaya mengidentifikasi sikap dan tantangan pengguna pembayaran digital di wilayah tersebut.

Di antara negara-negara di Asia Tenggara, konsumen di Malaysia (72%) sangat menyukai penerapan sistem pembayaran digital oleh UMKM. Menyusul Singapura (68%) dan Filipina (68%).

Permintaan sistem pembayaran tanpa kontak belum pernah terjadi sebelumnya. Survei menunjukkan keyakinan umum (64%) di antara para responden. Dompet seluler dapat mengembangkan bisnis secara positif dengan meningkatkan pendapatan mereka. 

Thailand menjadi wilayah yang paling percaya diri dengan ide ini (71%). Menyusul Malaysia (68%) dan Vietnam (64%).

Menurut penelitian, bentuk pembayaran digital yang sering digunakan di kalangan konsumen Asia Tenggara adalah aplikasi pembayaran seluler (58%). Kemudian internet banking melalui aplikasi seluler (53%), kartu debit (36%), kartu kredit (33%) dan internet banking melalui browser (31%)

Hampir tiga dari lima (59%) responden mengatakan bahwa mereka akan berbelanja lebih banyak di toko yang menerima pembayaran digital. Konsumen Malaysia (70%) paling cenderung melakukannya. Mengekor Vietnam (63%) dan Filipina (59%).

Bagi responden di seluruh wilayah, tiga alasan utama mereka untuk terbiasa dan nyaman dengan teknologi ini adalah karena kemudahan, akses yang praktis, dan privasi.

Menariknya, pengguna di wilayah ini juga menyadari isu-isu yang menghambat UMKM dalam merangkul teknologi tersebut. Lebih dari seperempat (27%) dari total responden mengatakan mengakui bisnis lokal belum siap menggunakan pembayaran digital karena masalah internet dan kurangnya perangkat.

Pandangan ini tertinggi di Filipina (31%). Lalu ietnam (30%), Indonesia (29%) dan Thailand (28%). Sedangkan Malaysia (21%) dan Singapura (20%) mencatat angka yang rendah untuk perspektif ini.

Namun, lain halnya ketika penyedia e-commerce atau penjual menjadi sasaran dari serangan siber. Survei menunjukkan kepercayaan konsumen untuk berbelanja di toko yang mengalami pelanggaran data turun 42% secara umum.

“Mereka juga mulai mendapatkan kesadaran akan bahaya dan risiko ancaman dunia maya dalam kehidupan pribadi mereka,” kata Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, belum lama ini. 

Mengetahui kebutuhan UMKM di seluruh wilayah Asia Tenggara untuk pulih kembali setelah dua tahun darurat kesehatan, Kaspersky menawarkan diskon untuk solusi. (nin)

ads-custom-1
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER