Jumat, 19 Juli 2024
FINTECHNESIA.COM |

Kurs Rupiah Anjlok dan Geopolitik Memanas, Ini hasil Stress Test Perbankan dari OJK

BACA JUGA


FinTechnesia.com | Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Terkait hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, risiko industri perbankan nasionali masih dapat dimitigasi dengan baik.

Berdasarkan hasil uji ketahanan (stress test) OJK, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini relatif tidak signifikan berpengaruh langsung terhadap permodalan bank. Mengingat posisi devisa neto (PDN) perbankan Indonesia masih jauh di bawah threshold dan secara umum dalam posisi PDN long (aset valas lebih besar dari kewajiban valas).

Bantalan permodalan perbankan yang cukup besar (CAR yang tinggi) diyakini mampu menyerap fluktuasi nilai tukar rupiah maupun suku bunga yang masih tertahan relatif tinggi.

Porsi dana pihak ketiga (DPK) valuta asing (valas) saat ini sekitar 15% dari total DPK perbankan. Sampai akhir Maret 2024, DPK valas masih tumbuh cukup baik secara tahunan (yoy) maupun dibandingkan awal tahun 2024 (ytd).

Pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat memberikan efek positif terhadap ekspor komoditas. Penurunannya diharapkan dapat mengimbangi penarikan dana non-residen dan mendorong industri dalam negeri untuk meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri dalam proses produksi.

Baca juga : Skenario Terburuk Dampak Virus Corona, Rupiah Bisa ke Rp 20.000 per dollar AS

OJK melakukan uji ketahanan (stress test) secara rutin terhadap perbankan dengan menggunakan beberapa variabel skenario makroekonomi dan mempertimbangkan faktor risiko utama yaitu risiko kredit dan risiko pasar.

OJK senantiasa melakukan pengawasan secara optimal untuk memastikan bahwa berbagai risiko akibat pelemahan nilai tukar maupun suku bunga yang relatif tinggi terhadap masing-masing bank termitigasi dengan baik.

OJK juga meminta bank untuk selalu melakukan pemantauan terkait potensi dampak transmisi dari perkembangan perekonomian global dan domestik terhadap kondisi bank dan melakukan langkah mitigasi yang diperlukan.

Koordinasi dengan Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus dilakukan disertai komitmen terus mengeluarkan kebijakan yang dibutuhkan secara tepat guna dan tepat waktu.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengimbau masyarakat tetap tenang dalam menghadapi dampak guncangan (shock) geopolitik global yang saat ini terjadi.

“Ketenangan dan rasionalitas dari masyarakat, serta koordinasi antar-otoritas terkait, merupakan faktor kunci dalam menghadapi dinamika perekonomian global yang saat ini terjadi,” kata Dian, Jumat (19/4).

Menurutnya, sejauh ini, penguatan dolar AS terjadi terhadap seluruh mata uang secara global, tercermin dari indeks dolar yang mencatatkan tren kenaikan sejak akhir Maret 2024.

Beberapa faktor yang memengaruhi penguatan dolar AS antara lain adalah kebijakan suku bunga high for longer yang masih berlanjut di tengah kuatnya perekonomian AS. Namun bersamaan dengan laju inflasi AS yang masih cukup jauh dari target 2%.

Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan The Fed yang menyatakan belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga dan akan terus melihat perkembangan data- data perekonomian ke depan.

Sementara itu, tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah setelah konflik langsung Iran dengan Israel menyebabkan kekhawatiran terjadinya perang yang makin meluas dan dapat membebani perekonomian dunia. Terutama dari kenaikan harga komoditas energi dan mineral utama serta kenaikan biaya logistik seiring terganggunya jalur perdagangan utama akibat konflik di Timur Tengah dan Rusia- Ukraina.

Peningkatan tensi geopolitik dan ketidakpastian global ini menyebabkan dolar AS yang merupakan salah satu safe haven asset terus diburu para pelaku pasar dan mendorong penguatannya lebih lanjut. (alo)


BERITA TERBARU

BERITA PILIHAN

header

POPULER