Mempertebal Pencadangan, Laba Bersih BRI Anjlok 43% Menjadi Rp 14,15 Triliun

20

FinTechnesia.com | Setelah lama dinanti, Rabu (11/11) Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengumumkan laporan keuangan. Per kuartal II-2020I, BRI mencetak laba konsolidasian sebesar Rp 14,15 triliun. Anjlok ekitar 43%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 24,8 triliun.

Direktur Utama BRI, Sunarso menyatakan, laba tahun ini pasti tidak akan setinggi tahun lalu, meski masih di rentang positif. Dalam kondisi pandemi, bank pelat merah tersebut pun lebih memilih memupuk pencadangan ketimbang laba.

“Kita harus sediakan bantalan, cadangan. Bila sewaktu-waktu ada pemburukan, terkover oleh bantalan yang kita cadangkan,” ujar Sunarso dalam paparan kinerja BRI Kuartal III 2020, Rabu (11/11).

Meski laba bersih terkoreksi tajam, aset BRI konsolidasi naik menjadi Rp 1.447 triliun. Pertumbuhan kredit juga naik 4,86% menjadi Rp 935,35 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 891,87 triliun. Lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit industri sebesar 0,12%

Komposisi kredit UMKM dibanding total kredit BRI n tumbuh dari 78,10% di kuartal III 2019 menjadi 80,65% pada kuartal III 2020. “Pertama kalinya BRI mampu mencapai porsi kredit UMKM sebesar 80%. Pencapaian ini kita targetkan tercapai di tahun 2022 dan BRI mampu menjawab tantangan tersebut lebih cepat,” ujarnya.

Pencadangan menurut Sunarso menjadi mutlak seiring restrukturisasi pinjaman. Hingga 30 September 2020 BRI telah melakukan restrukturisasi pinjaman senilai Rp 193,7 triliun kepada 2,95 juta debitur.

Meski begitu, rasio kredit bermasalah (NPL) BRI terjaga di angka 3,12% dengan NPL coverage 203,47% pada akhir September 2020. NPL BRI tercatat di bawah NPL industri perbankan pada September 2020 sebesar 3,15%.

BRI juga mampu menjaga loan to deposit ratio (LDR) secara ideal di angka 82,63% atau lebih rendah dengan LDR BRI di akhir September 2019 sebesar 92,99%. (yof)