Provisi Naik, Laba Bank Maybank Indonesia Turun Menjadi Rp 1,3 Triliun

FinTechnesia.com | Bank Maybank Indonesia
mengumumkan laporan keuangan per 31 Desember 2020. Laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar Rp 1,3 triliun. Turun dibandingkan Rp1,8 triliun pada tahun sebelumnya.

“Kinerja kami terpengaruh tantangan yang tak diduga akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, kami mampu mengatasi penurunan pertumbuhan pendapatan dari kredit dengan menjaga fee income yang dikontribusikan pendapatan dari global market, wealth management dan bancassurance,” terang Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria, Jumat (19/2).

Di saat yang sama, pembatasan kegiatan masyarakat dan kebijakan social distancing mengubah perilaku konsumen lebih mengandalkan transaksi secara online. “Hal ini mempercepat pertumbuhan digital banking kami,” lanjut Taswin.

Transaksi digital banking meningkat. Baik di segmen ritel maupun korporasi seiring dengan meningkatnya penggunaan layanan digital di tengah kondisi pandemi.

Volume transaksi M2U (platform digital banking untuk nasabah ritel) di tahun 2020 melonjak 110% menjadi 10 juta transaksi. Total dana pihak ketiga platform M2U melonjak 190,2% menjadi Rp3,4 triliun.

Sementara, total volume transaksi melalui M2E
(platform digital banking untuk nasabah korporasi) naik 36,2% menjadi 970.000 transaksi. Dan penghimpunan dana melalui platform ini melonjak 78,8% menjadi Rp 14 triliun.

Kinerja juga didukung penurunan cost of fund yang berkesinambungan dan pengelolaan overhead cost efektif. Overhead cost turun 10,7% menjadi Rp 5,7 triliun. Ini dampak pengelolaan anggaran biaya berkelanjutan di seluruh organisasi seiring pengurangan biaya umum dan administrasi.

Bank mencatat penurunan pendapatan sebesar 10% akibat menurunnya fee income dan net interest income yang terdampak oleh penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan melambatnya aktivitas usaha di masa pandemi Covid-19.

Fee based income turun 8% menjadi Rp2,4 triliun di Desember 2020 dari Rp 2,6 triliun di periode sama tahun lalu. Pendapatan bunga bersih (net interest income) turun 11,1% menjadi Rp7,3 triliun karena penurunan saldo kredit.

Margin bunga bersih (net interest margin) turun 51 basis poin menjadi 4,6% pada akhir Desember 2020 akibat penurunan imbal hasil dari pemberian kredit (loan yields).

Beban provisi kredit meningkat sebesar 16,5% menjadi Rp 2,1 triliun pada Desember 2020 disebabkan oleh penerapan standar akuntansi baru PSAK 71. Selain itu, Bank juga mengambil langkah konservatif mengalokasikan provisi di hampir seluruh portofolio bisnis sebagai respons terhadap pandemi.

“Ke depan, kami akan terus menyempurnakan layanan perbankan digital. Kami juga akan mulai menerapkan digitalisasi dan robotic process automation di kantor cabang untuk mencapai efisiensi lebih besar dan meningkatkan produktivitas kerja,” ujar Taswin. (yof)