Lanskap Sektor Pertanian: Baru Ada 4,5 Juta Petani yang Melek Teknologi


FinTechnesia.com | Bekerja sama dengan DSInnovate, CROWDE mengeluarkan laporan riset untuk melihat sejauh mana agritech (agriculture-technology) memberikan dampak positif bagi Indonesia. Mengangkat tajuk Driving the Growth of Agriculture Technology Ecosystem in Indonesia, laporan riset ini fokus membahas seputar lanskap pertanian di Indonesia. Termasuk tantangan dalam industri pertanian, sampai studi kasus agritech di Indonesia. 

Seperti sektor pertanian yang tumbuh sebesar 215% pada kuartal III 2020, tidak sejalan dengan kondisi petani yang memiliki tingkat penetrasi rendah terhadap teknologi. Padahal teknologi dapat memudahkan proses pertanian dari hulu ke hilir. Akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

Baru ada 4,5 juta petani dari total 33,4 juta petani di 2020 yang menggunakan internet selama satu tahun belakangan. Ini ditengarai rendahnya tingkat pendidikan yang sebanyak 14 juta petani merupakan lulusan tingkat sekolah dasar. 

“Kondisi petani Indonesia hingga kini masih sangat tradisional. Kehadiran teknologi seharusnya bisa membuat sektor pertanian lebih maju dan modern agar proses budidaya berjalan lebih efektif. Dan hasil panen lebih maksimal”, ungkap Mirza Adhyatma, VP of Product CROWDE, Kamis (29/4).

Untuk membantu penetrasi teknologi bagi mitra petani, CROWDE merekrut 40 field agent yang dibekali aplikasi AgScout untuk mempermudah proses monitoring dan pendampingan petani saat berbudidaya. Teknologi ini juga memudahkan mitra petani mendapat rekomendasi yang sesuai seputar proses budidaya. 

Selain itu, budidaya pertanian di Indonesia yang masih sangat bergantung dengan alam dan tingginya biaya produksi, juga menjadi kendala. Ketika petani menggunakan bahan input seperti pupuk, pestisida, bibit yang murah, hasilnya pasti tidak akan maksimal. Padahal biaya produksi yang tinggi membuat mereka jadi kesulitan modal.

Terlebih bagi para petani kecil, semakin sulit mendapat pembiayaan formal karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki jaminan sertifikat tanah. Ditambah sistem pembayaran dengan skema cicilan per bulan tidak sesuai dengan budidaya pertanian yang baru akan memperoleh hasil (panen) setelah beberapa bulan. Serta, prosedur administrasi yang rumit juga menyulitkan mereka. Keterbatasan akses permodalan inilah yang membuat usaha pertanian jadi sulit berkembang. 

Sehingga kemunculan perusahaan startup di bidang pertanian dalam 5 tahun terakhir ini dapat memainkan peran kunci dalam pencapaian target sektor pertanian di Indonesia. CROWDE berupaya mewujudkan terciptanya ekonomi inklusif yang mendukung permodalan bagi petani kecil dan unbanked. CROWDE memiliki tim farmer consultant yang akan membantu petani mengajukan permodalan secara digital melalui aplikasi AgSales. Sekaligus membekali petani dengan literasi keuangan.

Selanjutnya dalam hal pemasaran, petani kita masih sering mengalami masalah. Seperti fluktuasi harga, fasilitas seperti gudang dan transportasi belum memadai, lokasi produsen dan konsumen yang tersebar, kurangnya pengetahuan petani tentang pemasaran, tidak tanggap terhadap permintaan pasar, serta mekanisme distribusi yang tidak efisien. Panjangnya jalur distribusi membuat harga yang diterima petani relatif lebih rendah dari harga yang dibayarkan konsumen.

Untuk itu, CROWDE bekerja sama dengan 9 off-taker institusional dan 118 off-taker retail lokal agar bisa menampung seluruh hasil panen mitra petani. Jadi mereka tidak lagi perlu bingung soal akses pemasaran hasil panen. Mitra petani hanya tinggal fokus menjalankan budidayanya dan berupaya agar produktivitas hasil panen dapat terus meningkat. (sya)