Sabtu, 20 Juli 2024
FINTECHNESIA.COM |

Strategi Investasi Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ambil Posisi Berimbang

BACA JUGA


FinTechnesia.com | Perdebatan mengenai penurunan suku bunga fed funds rate (FFR) terus berlanjut di awal tahun. Sebelumnya pasar tampak sangat yakin, pemangkasan pertama dapat terjadi di bulan Maret, namun kini harapan tersebut pupus.

“Kami sudah memperkirakan, euforia suku bunga dapat menjadi sumber volatilitas di awal tahun, mengingat ekspektasi pasar yang cenderung berlebih terhadap besaran penurunan FFR,” kata Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Menurutnnya, berkaca dari apa yang terjadi di tahun 2023, investor sebaiknya berhati-hati dalam mengambil posisi yang bertentangan dengan pandangan The Fed.

MAMI sendiri cenderung lebih konservatif dalam mengasumsikan penurunan FFR. Semester kedua 2024 dipandang sebagai periode yang lebih aman untuk berasumsi The Fed bisa mulai memangkas suku bunga setelah ada kejelasan kondisi inflasi AS.

Baca juga: Persiapan Dana Pendidikan, Ini Tips dari Manulife Aset Manajemen Indonesia

Kemungkinan penurunan suku bunga pada tahun ini relatif lebih besar dibandingkan tahun lalu, didukung oleh tren disinflasi di AS dan proyeksi The Fed yang menunjukkan akan adanya penurunan suku bunga pada tahun ini dibandingkan tahun lalu yang tidak ada ekspektasi penurunan suku bunga.

Sementara sebagian besar bank sentral di banyak negara juga sudah bersiap menurunkan suku bunga. Tidak hanya AS berbagai negara sudah mencapai puncak suku bunga dan menantikan waktu untuk memangkas suku bunga.

Suku bunga riil di banyak negara sudah berada pada level positif dan merupakan yang tertinggi dalam rata-rata tiga tahun terakhir. Mengindikasikan bahwa suku bunga berada pada level restriktif.

Secara historis periode pemangkasan suku bunga dan turunnya imbal hasil obligasi menjadi iklim yang kondusif bagi pasar finansial. Selama tiga siklus penurunan suku bunga The Fed sebelumnya, indikator makro dan pasar finansial Indonesia menunjukkan hasil yang positif.

Yakni melandainya nilai tukar dolar AS arus masuk portofolio asing, penurunan imbal hasil obligasi dan pemangkasan suku bunga bank sentral. Siklus pemangkasan The Fed pada tahun ini diharapkan memberikan hasil serupa bagi Indonesia.

Pelonggaran moneter akan mendorong normalisasi likuiditas domestik, setelah sebelumnya demi menjaga stabilitas eksternal, Bank Indonesia (BI) melakukan pengetatan likuiditas.

Peluang pergeseran ini diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan pelonggaran suku bunga The Fed. Likuiditas yang membaik dapat memberikan dukungan yang lebih baik terhadap aktivitas perekonomian dan sentimen di pasar finansial.

Diperkirakan BI dapat melonggarkan kebijakan moneternya dengan menggunakan alat kebijakan non-suku bunga. Seperti menurunkan Giro Wajib Minimum sebelum mulai menurunkan suku bunga BI. Secara historis penurunan GWM terjadi sebelum siklus penurunan suku bunga BI seperti pada tahun 2015 dan 2019.

“Di tengah kondisi global yang dinamis, kami mengambil posisi yang berimbang pada konstruksi portofolio. Mengombinasikan elemen potensi katalis jangka pendek, defensif, dan potensi struktural jangka panjang,” papar Samuel.

§  Untuk katalis jangka pendek MAMI memperbesar alokasi pada sektor yang diuntungkan dari pemangkasan suku bunga (interest rate sensitive). Seperti di perbankan, properti, tower telekomunikasi, dan konsumer non-primer.

§  Sebagai porsi defensif, MAMI mengunggulkan sektor telekomunikasi, karena karakteristik industri cenderung resilien mengingat data merupakan kebutuhan pokok. Selain itu konsolidasi industri memungkinkan bagi emiten untuk menaikkan harga data secara gradual yang positif bagi marjin.

§  Potensi pertumbuhan struktural. MAMI mempertahankan posisi di sektor yang berhubungan dengan bahan baku untuk industri energi baru terbarukan. Transisi menuju era dekarbonisasi menguntungkan bagi Indonesia yang kaya akan komoditas yang digunakan dalam teknologi energi baru terbarukan. (kai)


BERITA TERBARU

BERITA PILIHAN

header

POPULER