Jumat, 2 Desember 2022

Awas, Penjahat Siber Mengincar Aplikasi Pertemuan Sosial Populer

BACA JUGA

- Advertisement -

FinTechnesia.com | Seiring penerapan social distancing, masyarakat banyak melakukan pertemuan dengan aplikasi video konferensi. Para ahli Kaspersky menyelidiki lanskap ancaman untuk aplikasi pertemuan sosial. Ada sekitar 1.300 file teridentifikasi menggunakan nama yang serupa dengan aplikasi terkemuka seperti Zoom, Webex dan Slack.

Aplikasi pertemuan sosial saat ini menyediakan cara mudah bagi orang untuk terhubung melalui video, audio atau teks. Di antara 1300 file tersebut, terdapat 200 ancaman terdeteksi. Ancaman paling umum adalah dua jenis adware yaitu DealPly dan DownloadSponsor.

Kedua jenis ini merupakan pemasang (installer) yang akan menampilkan iklan atau mengunduh modul adware. Perangkat lunak tersebut biasanya muncul pada perangkat pengguna setelah diunduh dari pasar tidak resmi.

Meskipun adware bukan jenis perangkat lunak berbahaya, mereka tetap dapat menimbulkan risiko privasi. Terlepas dari adware, pada beberapa kasus, pakar Kaspersky menemukan ancaman yang disamarkan sebagai file .lnk – pintas (shortcuts) ke aplikasi. Bahkan, sebagian besar dari mereka terdeteksi sebagai Exploit.Win32.CVE-2010-2568 – kode berbahaya yang cukup lama. Namun masih tersebar luas dan memungkinkan penyerang menginfeksi beberapa komputer dengan malware tambahan.

Namun “Raja” sebenarnya dari aplikasi pertemuan sosial yang namanya paling banyak digunakan oleh para pelaku kejahatan siber dalam percobaan mendistribusikan ancaman siber adalah Skype. Pakar Kaspersky berhasil menemukan sebanyak 120.000 file mencurigakan yang menggunakan nama aplikasi tersebut.

Tidak seperti yang lain, penggunaan nama aplikasi ini bukan hanya ditujukan untuk mendistribusikan adware, tetapi juga berbagai malware, khususnya Trojan. “Dalam keadaan seperti saat ini, ketika sebagian besar dari kita bekerja dari rumah, sangat penting memastikan bahwa apa yang kita gunakan sebagai platform pertemuan sosial daring diunduh dari sumber sah,” terang Denis Parinov, pakar keamanan di Kaspersky, Senin (13/4).

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER