Minggu, 7 Agustus 2022 | 23:49 WIB

IPO Saat Wabah Corona, Cashlez Bidik Dana Rp 87,5 Miliar

BACA JUGA

ads-custom-1

FinTechnesia.com | PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham CASH per 4 Mei 2020. Meski di tengah pandemi corona, perusahaan teknologi finansial payment gateway ini tetap optimistis memulai langkah baru di bursa papan akselerasi.

Presiden Direktur Cashlez, Tee Teddy Setiawan mengatakan, proses persiapan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) masih terus berjalan tanpa terpengaruh kondisi pasar. “Kami berharap IPO ini mendukung pengembangan bisnis melalui sinergi dari berbagai pihak,” kata Teddy, Senin (4/5)

IPO Cashlez tanggal 27 April 2020 menggandeng PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi. Seremoni pencatatan saham perdana dilaksanakan secara virtual melalui kanal media sosial Bursa Efek Indonesia. Dari IPO ini, Cashlez melepas 250 juta saham baru, seharga Rp 350 per saham. Jumlah modal ini meliputi sekitar 17,5% dari modal disetor dan ditempatkan pada Cashlez. Secara bersamaan, perseroan juga menerbitkan Waran Seri I dengan rasio 1:1.

Teddy Setiawan melanjutkan, melalui langkah IPO ini, Cashlez telah memperoleh dana segar sebesar Rp87,5 miliar. Sekitar 61,31% dana tersebut untuk mengakuisisi PT Softorb Technology Indonesia (STI). Sisa dana untuk modal kerja. “Melalui IPO ini, kami dapat terus berinovasi dalam mengembangkan bisnis. Salah satunya akuisisi STI yang menurut kami sangat strategis untuk pertumbuhan bisnis kami,” ujar Teddy.

Akuisisi tersebut diharapkan menciptakan sinergi untuk pengembangan bisnis, salah satunya melalui jumlah merchant yang bergabung bersama Cashlez. Sampai saat ini, jumlah merchant Cashlez mencapai lebih dari 7.000 merchants, 88% di antaranya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Akhir tahun ini, jumlah merchant yang bergabung dengan Cashlez diproyeksikan akan mencapai 10.000 merchants.

Sebagai catatan, kinerja perusahaan Cashlez di tahun 2019 meningkat dibandingkan dari tahun sebelumnya. Nilai Gross Transaction Value (GTV) akhir tahun 2019 meningkat menjadi Rp 3,81 triliun atau 183% year on year (yoy) growth dari tahun 2018. Target peningkatan GTV selanjutnya diproyeksikan 3 kali lipat dari hasil di tahun 2019. (yof)

ads-custom-1
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER