Selasa, 23 Juli 2024
FINTECHNESIA.COM |

Tetap Waspada, Ini Tiga Penajaman Strategi Bisnis Bank Mandiri

BACA JUGA


FinTechnesia.com | Bank Mandiri mengedepankan pertumbuhan bisnis dengan kualitas yang baik. Pada triwulan II 2021 ini pertumbuhan bisnis dan profitabilitas terus menunjukan kinerja yang membaik, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bank BUMN ini mencetak pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 16,4% year on year (yoy) menjadi Rp 1.014,3 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen wholesale banking yang tercatat tumbuh 7,13% yoy menjadi Rp 534,2 triliun per akhir kuartal II 2021.

Sementara pembiayaan ke segmen UMKM tercatat naik 20,1% yoy menjadi Rp 98,3 triliun hingga kuartal II 2021. Pertumbuhan tersebut juga diimbangi dengan kualitas kredit yang cukup terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 3,08% turun 21 basis poin (bps) yoy.

Dana pihak ketiga (DPK), Bank Mandiri secara konsolidasi hingga kuartal II 2021 tumbuh 19,73% yoy menjadi Rp 1.169,2 triliun. Dengan komposisi dana murah sebesar 68,49%.

Keberhasilan Bank Mandiri menjaga tren pertumbuhan dana murah ini juga ikut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) Bank Mandiri secara ytd (bank only) menjadi 1,71%. Turun dari level 2,53% pada akhir tahun lalu.

Akhirnya laba bersih perseroan yang tumbuh 21,45 % menjadi Rp12,5 triliun. Penyokongnya, pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 21,50% menjadi Rp 35,16 triliun. Serta pertumbuhan pendapatan berbasis jasa (fee based income) sebesar 17,27 % menjadi Rp15,94 triliun.

“Kami memandang tren pertumbuhan ini sebagai sinyal positif bahwa permintaan masih ada dan diharapkan akan terus meningkat. Namun, kami akan tetap waspada dalam mengeksekusi rencana bisnis ke depan,” kata Direktur Utama Bank Mandiri, Senin (30/8).

Mengoptimalkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, Bank Mandiri telah melakukan penajaman strategi. Terdapat tiga fokus dalam penajaman bisnis perseroan.

Pertama, integrasi bisnis wholesale dan ritel dengan memaksimalkan potensi value chain pada ekosistem nasabah wholesale.

Kedua, mengoptimalkan potensi bisnis dan sektor unggulan di wilayah. Serta penyaluran kredit secara prudent kepada targeted customer. Dengan mempertimbangkan sektor yang masih potensial dan pemulihannya lebih cepat sehingga menghasilkan kualitas kredit yang cukup baik.

Ketiga, Bank Mandiri akan mengakselerasi digital dengan mengembangkan solusi digital, perbaikan proses, modernisasi channel, serta peningkatan kapabilitas core banking. “Lewat strategi ini, Bank Mandiri optimistis kredit secara bank only mampu tumbuh 6%-7% YoY pada akhir tahun 2021, tentunya dengan tetap memprioritaskan pertumbuhan secara berkualitas,” imbuhnya.

Pada program restrukturisasi kredit terdampak pandemi, Bank Mandiri telah memberikan persetujuan kepada lebih dari 548.000 debitur. Dengan nilai persetujuan sebesar Rp 126,5 triliun. Dari nilai tersebut, hingga Juni 2021, total baki debet restrukturisasi Covid-19 sebesar Rp 96,5 Triliun. Sebanyak 62% dari total debitur restrukturisasi merupakan pelaku usaha UMKM.

Inovasi serta akselerasi digital Bank Mandiri juga telah membuahkan hasil positif. Digitalisasi layanan melalui aplikasi Livin’ by Mandiri sampai dengan Juni 2021 mencatat 7,8 juta pengguna. <eningkat 45% dari periode setahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, transaksi finansial Livin’ by Mandiri meningkat sebesar 65% secara yoy menjadi 434,9 juta transaksi. Adapun n nilai transaksi mencapai Rp 728,9 triliun per Juni 2021. Bank Mandiri di tahun 2021 ini tengah melakukan pengembangan solusi digital guna mendorong pertumbuhan transaksi digital nasabah dengan memberikan solusi kemudahan digital baik bagi kebutuhan perusahaan mapun individual. (yof)


BERITA TERBARU

BERITA PILIHAN

header

POPULER