Senin, 3 Oktober 2022

Lintasarta Kembangkan Solusi Teknologi Kartu Kredit untuk BPD

BACA JUGA

- Advertisement -

FinTechnesia.com | Lintasarta, perusahaan Information and Communication Technology (ICT) total solutions dan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa), perusahaan pelopor sistem pembayaran di Indonesia dan prinsipal layanan ATM Bersama, mengadakan kegiatan panel diskusi.

Kegiatan itu bertajkl Grow Your Business Through Digital Card” yang dihadiri oleh lebih dari 30 perusahaan. Terdiri dari bank pembangunan daerah (BPD), bank swasta, perusahaan penyedia kartu kredit hingga asosiasi.

Melihat peningkatan tren pascapandemi, perubahan perilaku masyarakat Indonesia cenderung melakukan proses transaksi secara nontunai.

“Sudah saatnya kita lebih gencar mendukung pengembangan elektronifikasi transaksi keuangan daerah dalam rangka mendorong digitalisasi pemerintah daerah,” kata Ginandjar, Direktur Marketing & Solutions Lintasarta, Jumat (5/8).

Melansir survei Bank Standard & Chartered pada tahun 2020, sebagian besar (80%) responden berharap, Indonesia akan sepenuhnya beralih ke nontunai. Dan kemungkinan akan terjadi sebelum 2025.

Kecenderungan akan nontunai di Indonesia ini jauh lebih tinggi dibandingkan tren global. Dari 12.000 responden di 12 negara yang disurvei, sebagian besar memang ingin pindah ke pembayaran nontunai. Namun, hanya 64% responden global yang berharap peralihan ini terjadi.

Hasil survei ini didukung pula oleh data Standard & Chartered, yang menyebutkan bahwa penggunaan ATM di seluruh dunia semakin berkurang. Kecuali di Amerika Serikat dan Inggris. Artinya, kebutuhan terhadap uang tunai juga menurun.

Indrawan Nugroho selaku CEO & Co Founder Corporate Innovation Asia mengatakan, Perubahan inovasi pembayaran nontunai semakin berkembang di Indonesia. Tren awal yang dimulai dengan e-money atau uang elektronik seperti GoPay, OVO, dan Dana, kini mulai bergeser ke QRIS karena satu dan lain hal.

“Ini menyebabkan penggunaan uang tunai makin kehilangan peminat dan menuntut bank untuk lebih adaptif. Nasabah akan terus mencari alternatif pembayaran nontunai yang lebih fleksibel dan aman tentunya,” kata Indrawan.

Melihat kecenderungan masyarakat untuk beralih ke nontunai serta potensi alat pembayaran kartu, sudah seharusnya bank mempertimbangkan investasi untuk penawaran produk kartu kredit.

Namun, pada kenyataannya, bank sering kesulitan. LANTARAN harus melakukan investasi awal yang cukup besar dan biaya operasional yang cukup tinggi.

Untuk itu, Lintasarta menghadirkan solusi teranyar dan pertama di Indonesia, yaitu Third Party Card Management (TPCM). Bank dan lembaga lain yang ingin menawarkan produk kartu kredit bisa memanfaatkran solusi ini .

Lintasarta menyediakan solusi pengelolaan kartu dengan modul yang komprehensif, dan terhubung dengan berbagai jaringan pembayaran internasional (Visa dan MasterCard).

Lintasarta TPCM menyediakan Card Software yang telah berstandar PA DSS (Payment Application Data Security Standard), Infrastruktur lengkap (AS400, App ServersConnectivity, dan Security), dan Business Process Operations yang menjalankan operasional proses bisnis kartu kredit pada sektor teknologi.

Lintasarta akan terus membantu pemerintah dan para pelaku bisnis di Indonesia dengan menyediakan solusi-solusi ICT guna mengembangkan ekonomi Indonesia. Sekaligus mencari strategi terbaik bagi industri keuangan, agar mampu beradaptasi di tengah kompetisi yang semakin ketat dan kebutuhan nasabah yang meningkat. (ari)

- Advertisement -
sidebar
sidebar

BERITA TERBARU

header

POPULER