Berumur Sewindu, Indigo Lakukan Rebranding

FinTechnesia.com | PT Telkom Indonesia Tbk terus mendorong pertumbuhan industri kreatif digital di Indonesia melalui program inkubasi/akselerasi Indigo. Nah, BUMN ini melakukan rebranding Indigo untuk menjawab tantangan perubahan untuk mempercepat perkembangan ekosistem startup dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Indigo memiliki misi untuk mencari ide-ide digital kreatif karya anak negeri di berbagai daerah yang bisa mengubah bangsa (to transform nation). Indigo berkeyakinan bahwa ide-ide tersebut tersebar ut tersebar di penjuru negeri yang bisa menetas berupa solusi.

Untuk mewujudkan misi itu, Indigo menyediakan inkubasi/akselerasi startup lengkap. Dengan program pengembangan startup end-to-end. Mulai dengan kegiatan nurturing creativity di tahapan pre-startup, inkubasi/akselerasi startup hingga pada program sinergi bisnis dan investasi lanjutan atau follow-on-funding.

Program inkubasi/akselerasi startup digital Indigo ini pertama kali diadakan pada tahun 2013. Dan secara konsisten Indigo melaksanakan startup batch intake sebanyak dua kali setiap tahunnya.

“Proses rebranding Indigo merupakan respons Telkom menyesuaikan dengan perubahan dalam menjalankan program inkubasi dan akselerasi startup digital di era neew normal. Kebaruan proses rebranding bukan hanya internal dalam hal pengelolaan program inkubasinya. Melainkan juga meluncurkan inisiatif secara eksternal,” kata Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business Telkom, Selasa (7/9).

Selama 8 tahun menjalankan program inkubasi/akselerasi startup digital, Indigo telah membina 52.276 talenta digital tersebar di 17 IndigoSpace, dahulu bernama Digital Innovation Lounge (DILo). Indigo juga sudah membina 194 startup dari 15 jenis industri.

Dari 194 startup tersebut, terdapat 91 startup alumni yang masih aktif menjalankan bisnisnya di pasar domestik maupun internasional. Lalu 28 startup yang saat ini sedang berada dalam program inkubasi/akselerasi, dan 75 startup gagal.

Selain itu terdapat 24 startup Indigo yang telah memperoleh investasi lanjutan dari berbagai venture capital (VC) serta investor dalam dan luar negeri. Beberapa contoh startup sukses yang diinkubasi dan diakselerasi di program Indigo adalah RUN System (startup Indigo tahun 2014). Ini menjadi startup alumni Indigo pertama yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (IDX) dengan kode saham RUNS.

Selain RUNS, startup Indigo akan melakukan IPO dalam waktu dekat antara lain PrivyID (aplikasi tanda tangan digital). Kaku IZY (penyedia mobile concierge), Verihubs (penyedia layanan verifikasi data berbasis AI, Nodeflux (aplikasi video analytic berbasis AI), Muslim Life (platform edukasi keluarga muslim), Opsigo (online booking platform dan Corporate Travel Management), Goers (online ticketing system), Osman (aplikasi penunjang bisnis kegiatan BUMDES), OnTruck (platform logistic on-demand), dan Bahaso (platform e-learning bahasa asing).

Bahkan startup alumni Indigo, yaitu Payfazz (batch 2 – 2016), membentuk Fazz Financial Group (FFG). Langkah ini setelah mengakuisisi Xfers (startup payment gateway asal Singapura).

Melalui layanan FFG ini bisa memudahkan transaksi antar-negara bagi mereka yang tidak memiliki akun bank (unbanked). Layanan inklusi keuangan ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara. (eko)