Senin, 15 April 2024
FINTECHNESIA.COM |

OJK Ungkap, Sektor Jasa Keuangan Masih Terjaga, Ini Indikatornya

BACA JUGA




FinTechnesia.com | Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 3 Januari 2024 menilai, stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga. Ini didukung permodalan yang kuat, likuiditas memadai dan profil risiko terjaga. Sehingga mampu menghadapi potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. 

Indikator perekonomian menunjukkan moderasi pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, khususnya di negara Uni Eropa dan Tiongkok. Perlambatan pertumbuhan ekonomi mendorong inflasi turun mendekati target inflasi sehingga memberikan ruang bagi bank sentral untuk lebih akomodatif.

Di Amerika Serikat (AS), The Fed mengisyaratkan akan menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 75 bps di 2024 dengan pasar menilai ekonomi AS masih cukup resilient dan diperkirakan tidak akan mengalami resesi. 

Baca juga: OJK Meminta Perbankan Blokir 85 Rekening Pinjol Ilegal

Namun demikian, pasar masih mencermati perkembangan geopolitik ke depan. Seperti eskalasi ketegangan di laut merah imbas dari konflik Palestina-Israel, serta penyelenggaraan pemilihan umum yang mencakup 50% populasi dunia terutama di beberapa negara utama seperti AS, Uni Eropa, India, dan Taiwan. 

Secara umum sentimen di pasar keuangan gobal cenderung positif pada Desember 2023 didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga fed funds rate (FFR) dan narasi soft landing di AS.

“Sehingga mendorong kembalinya aliran dana masuk ke emerging markets (EM) dan penguatan pasar keuangan global, termasuk pasar keuangan Indonesia,” terang Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK, Selasa (9/1). Volatilitas baik di pasar saham, surat utang, maupun nilai tukar juga terpantau menurun.

Di domestik, leading indicators perekonomian nasional masih cukup positif, di antaranya ditunjukkan oleh neraca perdagangan yang masih surplus dan PMI Manufaktur yang masih ekspansif.

Tingkat inflasi juga terjaga rendah di level 2,61% yoy dibandingkan November 2023 sebesar 2,28 persen yoy. Namun perlu dicermati perkembangan permintaan domestik ke depan seiring masih berlanjutnya penurunan inflasi inti, penurunan optimisme konsumen, serta melandainya pertumbuhan penjualan ritel dan kendaraan bermotor. (kai)


BERITA TERBARU

BERITA PILIHAN

header

POPULER