Ekosistem Telehealth Permudah Akses Kesehatan di Kota Tier 2 dan 3

FinTechnesia.com | Terlepas dari pandemi, terbatasnya akses kesehatan di luar kota besar masih menjadi tantangan industri kesehatan tanah air. Ketidakmerataan fasilitas kesehatan daerah dibanding kota besar, jumlah dokter spesialis, ketersediaan stok obat dan jumlah apotek, hingga biaya pengobatan kerap menjadi kekhawatiran bagi masyarakat daerah untuk mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari negara kepulauan kerap menjadi penghalang bagi infrastruktur menjangkau masyarakat secara merata.

Perjalanan laut belasan jam yang masih harus dilalui untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan rumah sakit, kerap terjadi. Bukan hanya bagi masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal), juga masyarakat yang tinggal di kepulauan sekitar Pulau Jawa.

Penetrasi teknologi akibat dorongan pandemi, juga berpotensi membawa dampak cukup besar dalam membuka transformasi akses kesehatan melalui teknologi secara lebih mudah dan merata. Terutama bagi masyarakat di kota tier 2 dan 3.

Moh. Adib Khumaidi, Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, pandemi tidak hanya menjadi krisis bagi dunia kesehatan, juga menjadi pembelajaran akan pentingnya akses kesehatan mudah dan merata di Indonesia. Pada prinsipnya, transformasi digital di bidang kesehatan ini kebutuhan masyarakat secara global.

“Indonesia sangat beruntung memiliki ekosistem teknologi yang kuat. Shingga dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai upaya dalam mendukung dan mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat. Trmasuk di daerah,” kata Adib, belum lama ini.

Di saat aktivitas masyarakat dibatasi akibat pandemi, teknologi di sektor kesehatan justru menjadi solusi yang memudahkan masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan secara daring. Seperti konsultasi jarak jauh, apalagi untuk masyarakat di kota tier 2 dan 3.

Popularitas telehealth semakin meningkat seiring upaya pemerintah menciptakan “rumah sakit tanpa dinding” dan berbagai program kolaborasi yang dilakukan dalam penanganan pandemi seperti program isolasi mandiri yang dibantu telehealth.

Ketersediaan dan integrasi apotek dengan telehealth juga memiliki peran dalam memberikan layanan kesehatan berkualitas yang merata di kota tier 2 dan 3. Saat berdiskusi terkait perluasan akses kesehatan melalui pemanfaatan telehealth.

“Apotek dan telehealth lantas menjadi sebuah sinergi baru. Sehingga akses layanan kesehatan berkualitas di sejumlah daerah tidak lagi terhalang oleh jarak,” kata Nurul Falah Eddy Pariang, Ketua Ikatan Apoteker Indonesia

Halodoc sebagai platform layanan kesehatan, juga melihat peningkatan penggunaan telehealth di luar Pulau Jawa. Co-Founder dan CEO Halodoc, Jonathan Sudharta mengatakan, ekosistem telehealth yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun, mampu menjembatani kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang berkualitas dan terpercaya.

Telehealth kini memungkinkan masyarakat di berbagai daerah bahkan Papua, berkonsultasi dengan dokter spesialis dari kota besar. Sseperti Jakarta.

“Dengan misi menyederhanakan akses layanan kesehatan di berbagai daerah, Halodoc berkomitmen memperluas pemanfaatan teknologi di luar kota besar. Yang diharapkan dapat menjadi solusi di tengah terbatasnya akses kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil di Indonesia,” ujar Jonathan.

Sebelum pandemi, telehealth masih asing, dokter dan pasien lebih memilih pertemuan tatap muka. Namun pandemi membuat kebutuhan berubah. Mulai dari cara dokter berkonsultasi dengan pasien hingga resep obat secara elektronik.

“Ini momentum perubahan baik dari sisi masyarakat maupun pelaku industri kesehatan yang mulai menyadari dan membawa dampak positif terutama dalam hal perbaikan layanan kesehatan ke depan,” kata Deputi Chief DTO Kementerian Kesehatan, Agus Rachmanto.

Ada tiga faktor utama telehealth yang dipercaya mampu permudah akses layanan kesehatan di kota tier 2 dan 3.

Pertolongan pertama layaknya kotak P3K yang ada di setiap rumah

Inovasi ini memiliki peran penting layaknya kotak P3K sebagai pertolongan pertama yang dapat diakses secara cepat dan mudah. Inovasi telehealth yang tersedia 24/7 juga terbukti mampu menolong para pasien positif COVID-19. Data internal Halodoc menunjukkan, 12% pasien positif COVID-19 se-Indonesia terbantu dengan memanfaatkan akses layanan kesehatan digital dari Halodoc.

Pengalaman seamless bagi pengguna dan para mitra

Telehealth memungkinkan digunakan oleh masyarakat di wilayah dengan infrastruktur belum memadai. Hanya dengan smartphone dan akses internet, akan langsung dapat terhubung dengan dokter dalam waktu 30 detik. Pembelian vitamin dan obat juga akan dikirim secara langsung oleh pengantar kurang lebih dari 1 jam akan tiba di depan pintu rumah pasien.

Sementara dari sisi mitra, teknologi telehealth berbasis artificial intelligence (AI) memudahkan dokter beradaptasi dengan metode konsultasi online. Halodoc juga melakukan pelatihan berkala untuk memastikan dokter familiar dan nyaman dalam menggunakan aplikasi dan menjawab keluhan pasien secara virtual.

Telehealth jadi sarana bagi dokter untuk menjangkau lebih banyak masyarakat

Indonesia hanya memiliki 4,27 dokter untuk setiap 10.000 populasi. Jumlah ini terbilang cukup tertinggal dibanding negara tetangga. Seperti Filipina (6), Thailand (8,05), atau Singapura (22,9).

Telehealth sangat berperan bagi para dokter untuk memperluas jangkauan layanan. Di Halodoc sendiri, layanan chat dokter masih menjadi yang paling diminati sejak sebelum pandemi.

Melalui layanan tersebut, Halodoc mampu menghubungkan 20.000 dokter umum dan spesialis di berbagai bidang. Dengan lebih dari 20 juta monthly active user (MAU) di berbagai wilayah Indonesia.

Pemanfaatan telehealth secara optimal untuk mempermudah akses layanan kesehatan di kota tier 2 dan 3 di Indonesia tentu membutuhkan kerjasama dengan seluruh stakeholder di layanan kesehatan. (nin)