Pengguna Boikot WhatsApp, Telegram Ketiban Berkah

30

FinTechnesia.com | Gelombang penolakan privasi baru WhatsApp ke mana-mana. Ujungnya, aplikasi pesan singkat lain ketiban rezeki.

Telegram misalnya, melampaui 500 juta pengguna aktif bulanan di pekan pertama Januari dan angka ini terus bertambah.

Dalam 72 jam terakhir per 12 Januari 2021, terdapat 25 juta pengguna baru bergabung dengan Telegram, dari seluruh dunia. Rinciannya 38% dari Asia, 27% dari Eropa, 21% dari Amerika Latin, dan 8% dari Timur Tengah dan Utara Afrika.

Angka ini peningkatan signifikan dari tahun lalu. Hanya 1,5 juta pengguna baru mendaftar setiap hari. Sepanjang sejarah tujuh tahun beroperasi, Telegram telah mengalami beberapa lonjakan dalam jumlah unduhan. Namun lonjakan kali ini adalah yang paling signifikan.

“Lonjakan unduhan ini menunjukkan bahwa publik kini semakin memahami arti pentingnya data pribadi dan tidak bersedia menukarkan privasinya untuk digunakan oleh platform komunikasi yang menjual data pribadi untuk kepentingan bisnis,” tulis Telegram, dalam keterangan tertulis, Selasa (14/1).

Dengan setengah miliar pengguna aktif dan tingkat pertumbuhan semakin cepat, Telegram telah menjadi platform berkomunikasi secara aman yang terbesar bagi para penggunanya yang mengedepankan privasi dan keamanan.

Telegram menegaskan, berkomitmen dalam perlindungan data pribadi dan senantiasa menempatkan penggunanya sebagai prioritas.

Telegram tidak akan pernah memonetisasikan data pribadi pengguna untuk pembuatan profil untuk iklan bertarget. “Sejak hari peluncuran pada Agustus 2013, Telegram tidak pernah mengungkapkan satu byte pun dari data pribadi penggunanya kepada pihak ketiga,” jelas Telegram.